Rejeki dan Jalan Menuju Kemapanan !

 

 

Dodon YS, Swasta, 32 thn, Surabaya. 2 April 2005.

 

 Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih atas semua saran dan jawabannya.
Saya adalah bapak dari 2 anak [5 thn dan 1,5thn] dan beragama Islam.
Saya mohon saran, mengapa dalam 2thn bekerja ini tidak menunjukkan hasil
[uang] yang cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan istri dan anak. Selama
ini, penghasilan yang saya peroleh selain gaji adalah berupa utang.
Belum lagi, kalau orangtua atau adik2 itu mengeluh [sambat] pada kami.
Terima kasih.

 

MasIdan.

 

 

Rejeki adalah Rahasia Alam

 

 Mas Dodon yang sedang galau menghadapi keadaannya,

Anda tidak sendirian menghadapi kesulitan yang memang sulit ini. Mungkin anda telah ditemani jutaan orang yang sedang kecut menghadapi kenyataan ini. Keadaan yang memang sudah sulit dari sononya. Dari sana bangsa ini sedang menghadapi keterpurukan ekonomi. Dari sananya bangsa ini baru menghadapi buah si malakama. Minyak terus membumbung tinggi, seakan tak mau tahu tentang nasib sekian banyak orang. Bukan hanya ketakutan-ketakutan membumbungnya minyak yang serasa mencekik batang leher orang. Namun ketakutan-ketakutan akan naiknya barang-barang lain yang pasti akan menyusulnya. Dan siapakah yang akan memperdulikan nasib mereka. Semua menjadi terserah mereka, mau berbuat apa, dan harus bagaimana ?

Rezeki memang milik Tuhan. Kepada siapa rezeki itu akan diberikan dan didekatkan. Manusia seakan tak pernah tahu dengan cara apa dan harus bagaimana, suapaya rezeki itu bisa segera datang. Kalau toh ada sebagian manusia mencoba merumuskannya dengan logika, namun tak ada jaminan untuk segera menemukannya atau mendapatkannya. Semua seakan tak bisa ditetapkan dengan logika. Logika bagaimana kita bisa cepat kaya dan merasa mapan karenanya.

Di balik rahasia akan tidak adanya ketetapan -ketetapan logika tentang bagaimana kita bisa hidup sebagaimana mestinya. Maka dari itu manusia dituntut untuk berusaha sekuat tenaga, pikiran dan jiwa. Berusaha sekuat tenaga dimanapun berada. Itulah rahasianya, untuk berusaha sehabis-habisnya.

Dengan keyakinan itulah, kita berusaha supaya kita bisa mempunya harga diri, kehormatan, dan martabat yang seharusnya dan pada tempatnya, Tempat dimana kita bisa mantab melangkahnya. Mantab melangkahi bumi kehidupan yang penuh dengan persaingan yang ketat bagai tiada celahnya.

Maka untuk dapat memasuki celah persaingan yang ketat, tiada lain kecuali mempersiapkan waktu sepasti mungkin. Waktu yang pasti untuk selalu berusaha dan merencanakannya. Waktu yang pasti, menggunakan waktu senggangnya untuk merenungkan dan memikirkan (mempelajari), kenapa kita dan mangapa mereka masih kesulitan, kenapa dia sudah bisa menui hasil, mengapa kita selalu gagal, kenapa mereka sudah berasil, dan lain-lainnya. Supaya kita bisa melatih naluri tentang bagaimana kita dan mereka berusaha. Naluri yang terus terasah dan berkembang menangkap zaman yang seakan semakin ketat dalam persaingan. Kita terus belajar dan mengasah naluri tentang bagaimana mereka bisa gagal dan mengapa tak sedikt pula yang telah berhasil. Terus berusaha menemukan pelajaran tentang kunci dari sebuah kehidupan yang serasa tak kelihatan. Supaya kita menemukan dan menjadi keyakinan untuk bisa melangkah dengan pasti.

 

Menuju Kemapanan Butuh Waktu yang Panjang.

Menuju kemapanan yang nyata adalah suatu hal yang tak mudah dan gampang. Karena disana sarat dengan pelajaran dan pengetahuan. Pelajaran dan pengetahuan yang mendasari sebuah kemapanan. Bagai seorang anak yang harus belajar dalam memasuki tahapan-tahapan menuju kedewasaannya. Anda bisa membayangkan proses pembelajaran anak dari bayi hingga dewasa, tak kurang dari dua puluh tahun yang harus ia lalui dan lewati menuju ke kedewasaannya. Anda mungkin tak bisa membayangkan bagaimana ketika masih bayi, ia harus belajar tengkurap, merangkak dan berdiri hanya untuk bisa belajar berjalan. Berapa waktu yang wajib dihabiskan hanya untuk bisa berjalan. Berapa  waktu lagi yang digunakan untuk belajar menjadi dewasa. Tentu saja mereka harus memasuki proses anak-anak dan kemudian menjadi remaja sebelum memasuki ke kedewasaannya. Berapa waktu lagi yang wajib dihabiskan untuk menuju ke kedewasaannya.

Memang menuju ke kedewasaan pada dasarnya bisa dipercepat ,kalau kita punya kemauan yang keras untuk itu. Mungkin saja kita harus mengorbankan banyak hal yang sebenarnya pantas untuk dinikmatinya. Sebagaimana anak-anak yang harus bekerja untuk membantu orangtuanya karena keadaan yang memang mendesaknya. Mereka harus meninggalkan sekolahnya demi membantu jalan ekonomi keluarga yang harus dibantunya. Atau menggunakan waktu untuk bermainnya demi membantu ekonomi keluarga, selepas pulang dari sekolah. Walaupun harus banyak kehilangan masa-masa bermainnya. Tak sedikit dari mereka mempunyai nilai lebih daripada anak-anak seusianya dalam menghadapi kehidupannya di masa yang akan datang.

Begitu pula dengan anda, baru enam tahun membina keluarga. Dan biasanya baru bisa keluar dari manisnya cinta pasangan muda, setelah dua tahun membiana keluarga. Kemudian dua tahun anda berusaha mencari usaha (kerja), sebagaimana tuntutan sebagai kepala rumah tangga. Dan kemudian dua tahun selanjutnya, anda bekerja. Ternyata sekarang muncul tuntutan akan masih merasa kurangnya kebutuhan atas hasil kerja. Inilah proses tahapan yang memang harus anda lalui demi menuju kemapanan keluarga. Anda masih beruntung masih ada kesadaran untuk terus bisa berkembang. Dan berapa banyak pelajaran dan hikmah yang anda peroleh dari proses yang harus anda lalui itu. Maka dari itu, terus dan terus berusaha untuk berkembang demi kemapanan hidup keluarga anda. Tetapi harus diingat semuanya itu memang butuh waktu dan tahapan yang harus ditempuh untuk menujunya. Masalah panjang pendeknya waktu menuju kemapanan, sangat bergantung pengorbanan anda untuk meninggalkan hal-hal yang mungkin saja perlu. Akan tetapi tekad anda bisa mengalahkan segala-galanya, demi mempercepat proses tersebut.

Proses mempercepat cita-citapun jangan dikira satu atau dua tahun sudah cukup untuknya. Namun jika ada keberuntungan nasib, semua itu menjadi tidak mustahil. Namun umumnya taruh saja lima tahun yang akan datang merencanakannya, dengan usaha dan tekad yang keras menuju kemapanan. Memang butuh angka supaya kita punya renacana dan batasan, supaya kita dituntut selalu untuk memperjuangkannya. Memperjuangkannya dari kesulitan-kesulitan yang muncul karenanya. Tetap kokoh dan tegar ketika cobaan menuju kesana dipenuhi ujian. Kita harus tidak mudah patah semangat atau mundur menghadapi halangan yang ada. Karena kita dituntun oleh angka. Angka yang harus diperjuangkan demi keberhasialn menuju kemapanan yang nyata.

 

Faktor Penghalang menuju Kemapanan

Faktor keluarga, merupakan faktor penting yang dapat menjadi penghalang menuju proses kemapanan. Sebenarnya banyak hal yang terjadi yang bisa menjadi penghalang. Namun merunut permasalahan yang anda hadapi, beban keluraga yang lain bisa jadi menjadi masalah tersendiri dalam menuju kesana. Dalam hal ini anda harus punya sikap bahwa keluarga anda (istri dan anak) adalah segala-gala dan pantas diutamakan. Kerena inilah kewajiban anda yang paling nyata. Apapun yang terjadi kelurga andalah yang pantas dinomor satukan.

Dalam urusan keluraga lain ( orang tua dan adik-kakak, ataupun saudara yang lainnya) kita harus punya pandangan tentang keadaan yang memang sudah menjadi urusan makan atau keadaan yang memang sudah sangat memaksanya adalah baru pantas untuk dipertimbangkan. Bukan urusan yang lain-lainnya yang kadang malah kurang perlu. Kita harus punya prinsip dan keyakinan dalam mengutamakan keluarga kita dulu, baru kemudian keluarga yang lain. Ini memang kadang tidak mudah dan sangat rentan dengan kesalahpahaman. Akan tetapi percayalah, semua akan memahaminya dengan sendirinya setelah anda sudah mencapai kemapanan, maka biarkanlah waktu yang akan menjawabnya. Jadi harus juga ada tekad yang kuat mengenai prinsip tentang kepentingan keluarga anda dulu yang harus diutamakan.

Kedua, faktor istri juga harus ada kesepahaman tentang rencana-rencana kedepan, yang memang sudah akan anda rencanakan. Karena tanpa sepengetahuan istri dan ketidakpahaman tentang rencana anda ke depan, tidak mustahil muncul kesalahpahaman yang bisa menghambat rencana anda. Ini harus dilakukan supaya istri tahu dan mendukung usaha anda.

Ketiga, adalah faktor pemahaman masyarakat tak kalah pentingnya bisa menjadi penghambat usaha rencana anda kedepan. Di masa-masa sulit seperti ini, tidak sedikit bahkan banyak pandangan dan kebiasan-kebiasan yang berkembang dalam masyarakat menjadi faktor penghambat usaha untuk mengembangkan ekonomi keluarga. Kebiasan-kebiasan yang menghabiskan waktu demi (katanya) terciptanya kerukunan masyarakat, sehingga dalam banyak kasus telah menyebabkan terjadinya kemandekan ekonomi masyarakat, bahkan tak sedikit mengalami kemunduran ekonomi keluarga dalam masyarakat tersebut.

Itu bisa diukur dengan sedikitnya atau malah tidak adanya warga yang sukses dalam usaha dan penghidupan mereka. Anda akan sangat beruntung jika anda berada ditengah-tengah masyarakat yang produktif. Ini bisa dilihat dengan banyaknya kemajuan ekonomi warganya (keluarga-keluarga dalam masyarakat). Di mana seakan-akan dalam masyarakat tersebut, berlomba-lomba untuk meningkatkan ekonomi keluarganya. Dan ini bisa dibuktikannya dengan meningkatnya ekonomi sebagian besar warga di dalamnya. Sehingga saling bahu membahu mencari peluang yang mungkin bisa dilakukan. Sehingga muncul pandangan dalam masyarakat tersebut, bahwa siapa saja yang tak mampu memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk berusaha dan meningkatkan kinerja, maka akan habis tergilas oleh berjalannya waktu. Contoh masyarakat yang produktif, yang memudahkan anda untuk merealisasi kemapanan yang anda impikan.

Namun sebaliknya jika anda berada di tengah-tengah masyarakat yang tidak produktif. Maka beban berat yang akan ada hadapi menjadi penghalang menuju impian dan cita-cita anda. Anda akan banyak menghadapi permasalahan-permasalahan yang sebenarnya sama sekali tidak terkait dengan rencana-rencana anda, untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Kalau anda masih terlena dengan masyarakat yang kurang produktif, maka impian anda kemungkinan besar dan bahkan bisa dipastikan akan sulit dilaksanakan.

Kami tidak perlu mengemukakan apa-apa saja kebiasaan-kebiasaan yang bisa menghabiskan waktu anda kepada hal-hal yang kurang perlu. Yang jelas dalam masyarakat yang kurang produktif, seperti yang diukur dengan tidak meningkatnya ekonomi warga. Bisa dipastikan banyak kegiatan-kegiatan dan kebiasaan yang sama sekali tidak memberi manfaat apa-apa kepada warganya. Kecuali mungkin kebanggaan-kebanggan semu yang terjadi dalam masyarakat tersebut. Kebanggaan-kebangaan yang telah menjadi jebakan warganya semaikin terpuruk ekonominya dan masalah-masalah lain yang bisa ditimbulkannya. Masalah-masalah yang makin memperumit keadaan ekonomi warga yang tinggal di dalamnya.

Dan jika anda ternyata tinggal di dalam masyarakat tersebut ( yang tak produktif). Maka tidak ada kata dan kalimat lain yang harus anda putuskan kecuali menjadi diri anda sendiri, dan bukan bagian dari masyarakat dengan segala kebiasaan yang telah berlaku dalam kebiasaan masyarakat tersebut. Menjadi diri yang punya impian yang nyata, bukan kebanggaan-kebanggaan yang semu. Tentu saja ini tidaklah mudah untuk berusaha keluar atau menghindar dari kebiasaan yang ada. Namun sikap dan tekap yang keras akan mampu mengatasi itu semua. Dan kami punya keyakinan, suatu ketika masyarakat anda akan bisa memahami dan bahkan menhormati usaha anda, setelah mereka paham karenanya.

Tapi itu semua butuh waktu dan ujian yang akan mengiringi langkah anda menuju ke keadaan yang lebih baik. Tekanan, cemoohan, dianggap tidak umum, dan lain sebagainya, bisa saja tidak hanya muncul dari masyarakat anda, tetapi juga keluarga anda yang lain, yang ada atau tinggal dalam  masyarakat tersebut. Mereka seakan sudah tercengkeram oleh kebiasaan-kebiasaan yang sama sekali jelas-jelas merugikan masa depan mereka dan bahkan anak cucu mereka. Dan selama anda masih mampu mengatasi tekanan-tekanan atas tekad dan impian anda itu, maka jalan menuju kesana semakin terbuka. Namun jika sebaliknya, maka kecil kemungkinan anda akan meraih impian yang ada. Dan tidak mutahil kalau anda tidak mampu menghadapinya semuanya, anda akan tertelan waktu dan akan menjadi bagian dari masyarakat yang kurang produktif itu.  Suatu masyarakat yang ada hanyalah kebanggaan-kebanggaan semu, kebanggaan yang bisa merampas masa depan warganya dan anak cucu mereka.

Untuk itu anda harus punya sikap dan tekad yang keras untuk itu !

 

Mempersiapkan Masa Depan yang Nyata !

Kembali ke kegalauan anda,

Kalau melihat posisi anda, tampaknya anda akan kesulitan keluar dari kesulitan yang sedang anda hadapi itu. Karena kami melihat mengandalkan gaji yang ada sudah tidak mampu menjawab kebutuhan yang ada. Dan menunggu gaji naik adalah sesuatu yang sult untuk menutup kebutuhan yang terus bertambah. Untuk itu tidak ada yang lain kecuali mengerahkan tenaga yang ada, untuk lebih produktif atau menambah penghasilan yang lainnya. Seandainya anda bisa mencari tambahan penghasilan lainnya, mungkin ini salah satu jawaban. Tapi menurut kami ini sulit mengingat banyak hal yang terjadi, misalnya mau kerja yang lain apa ? dan lain sebagainya.

Tidak ada jalan lain untuk menutupi kebutuhan yang ada dan terus bertambah, kecuali mengarahkan istri anda untuk bisa mencari penghasilan tambahan lainnya. Berdagang atau usaha kecil-kecilan masih membawa resiko kerugian yang mungkin malah menambah beban yang ada. Untuk itu kami lebih menyarankan untuk bekerja pada perusahan atau usaha lain yang memberi gaji secara tetap. Sebab gaji yang tetap memudahkan kita untuk mengaturnya sesuai dengan kebutuhan yang ada (ngecakke : jawa).

Dan kalau ini sudah berjalan, dan keadaan ekonomi sudah cukup stabil. Saatnya anda untuk merencanakan rencana yang lain untuk menuju impian anda selanjutnya. Namun jika keadaan tersebut dianggap sudah cukup, maka ya sudah cukuplah. Tapi menurut kami, jika karier anda dan istri anda sangat lamban atau bahkan berkisar yang itu-itu saja, dan anda masih punya cita-cita yang lebih dari yang selama ini anda dapatkan. Maka menurut kami, tidak ada salahnya mencoba usaha lain atau bekerja dilain usaha, yang lebih menjanjikan atau menjamin karier anda.

Mungkin bisa saja rentan waktu yang anda gunakan untuk bekerja pada usaha atau perusahan lain itu, bisa menghentikan penghasialn anda dan bergantung pada penghasilan istri. Namun jika penghasilan istri sudah cukup untuk menutupi kebutuhan yang ada. Tidak ada salahnya jika anda mencobanya. Sebab ini akan menjadikan awal anda mengejar impian yang lebih menjanjikan.

Perlu anda ketahui, bahwa menurut hemat kami, untuk lebih menjanjikan karier anda sebaiknya tidak hanya berkutat mencari kerjaan atau usaha yang ada di kota atau daerah dimana anda tinggal. Apalagi peluang kerja yang lebih menjanjikan di daerah anda serasa semakin sempit, maka tidak ada jeleknya mencari ke daerah lain.  Karena menurut pengamatan kami, bekerja keluar daerah lebih menjanjikan karier anda. Sebab anda lebih berkonsentrasi pada peningkatan karier anda, atau maksud kami, semakin terkonsentrasi pada peningkatan penghasilan usaha anda. Karena anda tidak akan terbebani oleh pekerjaan rumah atau kegiatan-kegiatan dan kebiasaan yang terjadi di kampung anda yang sedikit banyak telah membuang banyak waktu anda.

Nampaknya hanya ini saja yang bisa kami kemukakan. Kami selalu mengingatkan bahwa proses ini butuh waktu dan belajar yang cukup panjang. Tidak secepat membalik telapak tangan. Cepat tidaknya kurun waktu yang akan anda jalani sangat bergantung pada tekad dan semangat anda untuk melakukannya. Tapi menurut kami, paling cepat tiga tahun kedepan anda baru bisa menstabilkan ekonomi yang ada. Dan selanjutnya pengembangannya ( jika anda punya impian yang lebih) tiga tahun kemudian anda akan semakin dekat dengan keadaan ekonomi yang lebih memnjanjikan. Namun jika keberuntungan di pihak anda, tak mustahil anda akan lebih cepat dari apa yang kami perkirakan. Yang penting kita punya angka untuk melakukan usaha yang keras. Dan jangan sekali-kali berharap keberuntungan saja, karena bisa mengganggu kinerja keras anda. Tidak mustahil, berharap kepada keberuntungan bisa menggelincirkan anda atau bahkan bisa menjebak diri anda pada keadaan sebaliknya. Kalau itu terjadi maka habislah impian anda, yang sudah anda kerjakan dan rencanakan. Maka sekali lagi, hindarilah berharap pada keberuntungan ! Tapi seandainya keberuntungan itu datang maka tidak ada jeleknya anda menerimanya. Menerimanya dengan kerendahan budi dan rasa syukur yang nyata kepada yang telah memberinya, yaitu Sang Pemberi Yang Sejati.

Selamat berjuang dan memulainya !

Mungkin singkat dan jelas untuk anda yang segera membutuhkan balasan. Untuk lebih lengkapnya ikuti uraian yang lengkap di www.duhgusti.com , mengulas pertanyaan anda secara lebih luas. Terimakasih !