Luka Cinta adalah Wajar dan Biasa ! Tamy, 24 thn, Swasta, Belum Menikah, Medan. 27 Februari 2006. Anda adalah wanita yang lainnya juga ! Apalagi sebagai seorang wanita, goresan cinta takkan pernah pupus dalam kenangannya. Namun sayang mereka harus merasa tersayat hatinya ketika goresan cinta itu ternyata tak bisa hilang dalam memorinya. Demikian juga dengan benci, juga takkan pernah menjadi menyesakkan dada ketika harus membawanya. Semua seakan menjadi keharusan bagi wanita untuk selalu membawa cinta dan benci dalam jiwa mereka. Namun sayang, masih banyak wanita yang harus selalu meratapi cinta dan benci yang ada dalam jiwa. Meratapinya, yang tanpa terasa telah semakin melemahkan jiwanya. Melemahkan jiwanya, karena anggapan jalan cinta hanyalah satu-satunya. Melemahkan jiwanya, karena benci harus selalu menjadi dendam selama hidupnya. Dan sayang kedua-duanya telah berperan menggrogoti kemulian jiwanya. Dan tanpa terasa merekanpun harus menanggung resiko hidup yang disebabkan oleh ketidakpahaman akan cinta dan benci yang memang harus ada. Untuk ini, sudah selayaknya anda menerima goresan cinta itu apa adanya, sebagai sebuah kenyataan jalan hidup anda. Anda adalah wanita yang lainnya, yang musti akan mengalami suatu peristiwa yang sama sebagaimana anda. Dengan demikian, janganlah anda merasa harus merana sendirian. Mereka juga bisa menghadapinya dan mencoba membuka perjalanan hidup yang lainnya. Maka sudah sepantasnyalah anda bisa unrtuk melakukannya sebagaimana mereka.
Antara Kepribadian Anak dan Kebiasaan Orang Tua ! Fansuri, 23 thn, Wiraswasta, Belum Menikah, Sidoarjo. 25 Februari 2006. Kultur Keluarga berperan besar membangun Kepribadian seseorang ! Bangunan jiwa seseorang akan mulai terbangun dari mana ia dibesarkan dan dididik. Kebiasaan-kebiasaan yang menyangkut cara bersikap dan berprilaku dalam sebuah keluarga merupakan cermin sebuah kultur ( atau baca : kebiasaan ) yang ada dalam keluarga tersebut. Adalah wajar dan masuk akal jika kepribadian seseorang tak akan jauh berbeda dengan apa yang menjadi kebiasaan atau kultur keluarganya. Akan tetapi perlu diingat juga bawasannya kultur keluarga juga merupakan bagian dari kultur yang berkembang pada masyarakat di mana mereka tinggal. Kultur masyarakat maupun keluarga yang ada di dalamnya, pada dasarnya sulit berubah jika dihadapkan dengan kultur masyarakat yang lainnya. Sebab kultur atau kebiasaan-kebiasaan yang terjadi dalam masyarakat umumnya merupakan kultur atau kebiasaan yang bersikap lokal atau kedaerahan ( primordial ). Dan kebiasaan-kebiasaan yang bersifat kedaerahan, umumnya merupakan bentukan dari kebiasaan-kebiasaan yang turun temurun. Sebagaimana kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga, juga menjadi masuk akal jika terbentuk secara turun menurun, walaupun tak harus sama persis, namun juga tak jauh dari asalnya.
|