|
*** Ber-Amal ! Sekaligus Mendapat Jasa ! *** *** Waspadai Sumber Keonaran & Kericuhan di Lingkungan Anda ! ***
Hidup ini Bagaikan sebuah Bandul !
Tifa, Pelajar, 15 thn,
Jakarta Barat. 14
April
2005. Sebelumnya saya ucapkan terima kasi pada Anda karena telah mau membaca
Begini ceritanya, saya merasa sangat kesepian, tidak punya teman. Di
Yang saya ingin tanyakan hanya bagaimana caranya supaya semua orang
MasIdan.
Hidup Bagai Sebuah Bandul.
Dik Tifa yang kesepian, Inilah hidup manusia, disadari atau tidak punya kapasitas yang sangat terbatas. Ibarat sebuah lingkaran, mereka hanya akan berada dalam lingkaran tersebut. Mereka tak mungkin menambahnya sampai melebihi lingkaran itu. Atau ibarat air tak akan lebih dari satu ember (wadah air). Kalau mau dipenuhi lagi, maka pastilah akan tumpah air tersebut.
Untuk itu Manusia ibarat suatu timbangan, akan lebih berat kemana bandul itu berada. Karena Manusia hanya menpunyai dua sisi yang bertolak belakang di dalamnya. Bertolak belakang dari sisi baik dan sisi buruknya. Dua sisi itu haruslah ada pada diri manusia. Maka, tidaklah mungkin akan bisa dihilangkan salah satunya. Dua sisi yang ada bagai sebuah timbangan. Timbangan yang mengerah kemana bandul berada. Bandul yang pasti punya bobot yang berbeda diantara keduanya. Salah satu bobot kemana manusia akan memilihnya. Memilh untuk menambah berat ke mana bandul yang ia suka. Atau bisa juga manusia menempatkan bandul pada keseimbangannya. Atau keinginan menempatkan lebih berat salah satunya.
Memang kita bisa menambah kualitas bandul yang ada pada diri kita. Meningkatkan kualitas bandul yang terbuat dari baja, sebuah bandul yang bukan dari besi tua. Kita juga bisa menggantinya dengan perak, perunggu, emas, atau bahkan permata. Itu semua bisa kita usahakan, selama kita mau memperjuangkan dengan seksama. Memperjuangkan dengan sekuat tenaga dan juga dengan seluruh daya pikir yang kita.punya. Niscaya untuk menjadikan bandul bagai sebuah permata, tetap terbuka untuk dicarinya. Semuanya pasti bisa selama kita mau usaha.
Inilah kenyataan yang ada pada diri manusia. Namun pada umumnya hidup manusia tidak menyadari bandul yang ada. Sudah dimana berat bandul itu berada pada dirinya. Mereka seakan tak mau tahu tentang bandul yang ada pada dirinya. Sehingga hidup mereka seakan mengalir begitu saja. Seakan masa bodoh dengan muara itu berada.
Inilah kenyataan yang ada dari kebanyakan manusia yang ada pada bangsa kita. Mereka seakan mengikuti arus yang ada dan tak mau tahu akan kemana. Mau kemana dan nantinya ada apa, mereka menghiraukannya. Suatu ketika mereka bisa merasakan bahwa arus tersebut telah membawanya keilalang di sana. Mereka bisa merasakannya, akan sakit yang mereka rasa ketika ilalang menyabatnya (mengenainya). Namun sayang , rasa sakit itu masih dihiraukannya. Entah tak tahu ada apa dengan mereka. Mereka tetap saja ikut melenggangnya.
Suatu ketika, mereka baru sadar ketika mereka telah dihempaskannya pada batu karang yang besar. Mereka baru tersentak kaget bukan kepalang. Sayang mereka terlambat untuk lari darinya. Karena arus sudah sangat melenakannya. Sehingga batu karang itu bisa meremukkan jiwa tubuhnya. Remuk berkeping-keping serasa tak mungkin untuk diperbaikinya.
Ketika tubuhnya sudah terperosok dalam dikehancuran jiwa badannya. Barukah mereka meratapinya, menangisinya, dan merasa tobat karenanya. Namun sayang mereka sudah terperosok amat dalam. Dan harus menerimanya akaibat ketidakwaspadaannya dalam hidup mereka. Siapakah orang bodoh yang mau yang mau membodohi dirinnya sendiri dengan keterpurukan ?
Arus kebodohan yang Nyata !
Dik tifa yang masih diberi kesadaran atas kekurangannya, Sangatlah wajar kalau adik mempunyai kekurangan yang lainnya. Sebab siapapun dia selama masih menjadi manusia harus mau menerima kekurangannnya. Oleh karena itu kekurangan yang dipunya manusia adalah kepastian dari sebuah kenyataan.
Jadi menurut kakak, beruntunglah anda karena masih menyadari adanya kekeurangan tersebut. Padahal sangat jarang sekali orang menyadari akan kelemahan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Nah...! inilah orang yang hanya akan ikut kemana arus itu berada. Arus yang pelan tapi pasti akan membahayakannya dan merugikan dirinya sendiri. Maka tidak sedikit dari mereka dengan penuh kesadaran (namun hanya karena kebodohannya) mereka malah mengikuti saja arus tersebut. Katanya, mengapa harus susah-susah menentang atau menghadang arus yang ada. Ikuti saja biar nggak banyak mendapatkan masalah, katanya. Toh mengikuti arus itukan serasa lebih menyenangkan, katanya. Inilah orang bodoh yang hanya bisa membodohi dirinya sendiri. Entah kerena ketidaktahuannya atau memang kebodohan yang nyata telah terjadi pada diri mereka. Kebodohan dan ketidaktahuan yang akan membawanya ke batu kepedihan dan kesakitan yang mungkin suatu ketika, siap menghadangnya. Inilah yang kakak lihat dari prilaku teman-teman adik. Mereka tak mau sedikitpun usaha, tapi pinginnya pintar juga. Ngak mau belajar dengan keras namun pinginnya menguasai semua pelajaran.
Kakak melihat teman-teman adik jelas sudah terbawa arus pingin enak saja, pingin mudahnya saja dan sama sekali nggak mau usaha. Apa yang akan mereka bisa dan diharapkannya kalau hanya pingin enaknya saja. Inilah yang kami maksud dengan arus kebodohan yang diikutinya. Arus kebodohan yang nyata walaupun mungkin nilai raportnya kelihatan pandai. Mau pandai darimana kalau kerjaannya hanya mencontek saja. Apa yang diharapkan dari masa depan mereka. Mereka hanya tinggal menunggu waktu untuk dihempaskan oleh batu penyesalan yang tak terkira, suatu ketika.
Suatu penyesalan karena dulu hanya pingin enaknya saja. Kenapa dulu waktunya banyak duganakan hanya untuk hura-hura, kesenangan dan yang mudah-mudah saja. Kenapa dulu tidak mau usaha. Suatu penyesalan yang tiada berguna. Ratapan hati yang tak membawa makna apa-apa. Dan tangisan jiwa yang tak mungkin dapat diteriama. Kakak khawatir dengan mereka, jangan-jangan tidak akan pernah menyadari kebodohan mereka. Siapakah orang bodoh yang mau-maunya membodohi dirinya sendiri itu ?
Kebaikan Takan Pernah Mengurangi Apa-Apa.
Begini Dik, menurut kakak, tak usah terlalu dihiraukan kekurangan yang ada pada diri anda. Itu sebuah kenyataan yang harus diterimanya. Sebab tak mudah untuk mengubahnya. Kalau toh bisa, butuh waktu yang panjang dan berliku. Namun ini semua tak perlu dilakukannya. Sebab itulah sebuah efek dari bandul yang adik pilih selama ini. Walau mungkin tidak disadarinya.
Sebuah bandul yang adik pilih dan jalani dengan menikmati usaha-usaha yang nyata. Serasa menikmati untuk selalu belajar dan berusaha menguasainya. Serasa menikmati untuk selalu menambah ilmu yang ada. Sebuah bandul yang dipilihnya kian tak terasa. Sebuah bandul sebagai pilihan yang akan disambut oleh jalan kesuksesan, kehormatan, dan jalan sebagaimana mestimya manusia berusaha untuk meningkatkan eksistensinya.
Kakak tak pernah sedikitpun riasau dengan kekurangan yang adik punya. Walau kadang adik sedih menjalaninya. Walau ada kesendirian yang serasa dikucilkan. Walau adik tampak kuper dan kurang pergaulan. Itulah sebuah bandul yang ada pada diri anda yang sudah dijalaninya dan dinikmatinya. Sebuah bandul yang seakan telah membawanya ke kesendirian dan kegalauan. Namun kakak tak mengkhawatirkan dan menakutkannya.
Karena adik hanya sedang dihadapkannya pada arus kebodaohan yang nyata. Diamana arus tersebut pasti takkan pernah mendapatkan apa-apa, kecuali penyesalan yang ada. Jadi adik tak usah risau dan mengkhawatirkannya. Karena adik hanya perlu cara menghadapi arus kebodohan yang nyata. Suatu cara dimana adik mampu menempatkannya. Tanpa harus menghilangkan kekurangan yang ada. Kekurangan yang hanya butuh dipoles dan disesuaikan keadaannya.
Dipoles dan disesuaikannya dengan keadaan arus yang ada. Suatu arus yang nyata-nyata tidak baik untuk di ikutinya. Karena pasti tidak akan pernah mendapatkan apa-apa, kecuali penyesalan yang tak berguana suatu ketika. Dipoles dan disesuaikan dengan melakukkan kebaikkan-kebaikkan apa adanya. Kebaikkan-kebaikkan yang tak usah berharap apa-apa kecuali kebaikkan itu sendiri. Kebaikkan-kebaikkan yang hanya akan mendapat kebaikkan itu sendiri. Dan yang pasti kebaikkan yang takkan pernah mendapatkan kerugian apa-apa.
Dik Tifa yang merasa sedih di hati, Jadi walaupun adik kuper dan kurang pergaulan, namun tetap bisa melakukkan kebaikkan apa saja kepada mereka. Walau mereka awalnya masih bermuka masam. Walau mereka malah menaruh curiga atau salah paham atas kebaikkan anda. Walaupun mereka tetap tak berubah sikapnya. Tak berubah sikap hanya karena mereka masih membodohi dirinya sendiri. Atau mungkin mereka masih mencibiri kebaikkan anda. Karena waktu akan terus berjalan dan akan mengungkapkan kebaikkan. Kebaikkan yang akan menenggelamkan kebodohan yang ada. Sebab hanya waktulah yang akan mampu menjelaskan semua, atas apa itu kebaikkan yang nyata. Jadi maksud kami, biarlah adik kuper, akan tetapi suatu ketika akan disegani oleh mereka. Dihormati oleh mereka dan akan disayangi mereka.
Lalu bagaimana jalan menuju ke sana ? Mulailah dari sekarang untuk menebar kebaikkan-kebaikkan itu. Menebar kebaikkan untuk membiarkan mereka menyontek usaha anda. Biarkanlah mereka takkan pernah mendapatkan apa-apa karena kerjanya hanya menyontek pekerjaan anda. Mereka pasti takkan mendapat apa-apa kecuali kebodohan yang akan mereka terima. Suatu kebodohan yang seakan mendapat kepuasaan yang sangat sementara. Kepuasan atas nilai baik yang mereka teriama, tanpa harus usaha. Tapi apa sebenarnya yang akan mereka terima dari itu semua. Tentu saja mereka hanya akan menerima kebodohan yang nyata atas kerjaannya itu.
Mana mungkin orang yang kerjaannya menyontek saja punya masa depan yang menjanjikkan. Mana mungkin, suatu ketika mereka akan selalu mendapatkan banyak kemudahan kalau kerjaannya hanya enaknya saja. Bagaimana mungkin mereka akan mendapat harga diri yang tinggi kalau kerjaannya hanya mau yang mudah-mudah saja. Mana mungkin ? Jadi biarlah mereka terus tenggelam pada arus kebodohan yang nyata atas kebaikkan-kebaikkan anda. Biarlah mereka suatu ketika akan sangan menyesalinya perbuatanya.
Percayalah, tindakkan mereka tidak akan mengurangi kepandaian anda. tidak ada sedikitpun sesuatu yang berkurang pada diri anda, kecuali hanya akan menerima kebaikkan-kebaikkan yang telah anda berikan. Biarlah mereka terus terbawa arus kebodohannya. Mereka tidak akan pernah mendapatkan apa-apa kecuali kebodohan itu sendiri.
Mungkin suatu ketika, tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkannya. Sehingga pada saat itu, adik merasa mendapat kerugian atas kebaikkan-kebaikan yang telah diberikannya. Yang tidak menutup kemungkinan akan mereka manfaatkan.
Namun percayalah ! Itu hanyalah masalah waktu saja. Namun Dengan syarat adik jangan merasa habis-habisnya menebarkan kebaikkkan semuanya. Niscaya waktu takkan mampu membohongi kebenaran. Waktu takkan mampu menenggelamkan kebaikan yang begitu nyata itu. Sampai kapanpun kebohongan itu ada. Sampai kapanpun kesalahpahaman itu ada. Kebenaran takkan pernah bisa ditutupi oleh waktu yang terus berjalan ini. Kerena di sanalah tempat kebenaran itu berada, dan tak mungkin lekang karenannya.
Ayolah ! beri kebaikkan kepada mereka, dengan memberikan kado ulang tahun kepada siapa saja, yang sederhana saja. Yang penting bukan harganya. Akan tetapi ungkapan kebaikan yang diberikan dengan penuh persahabatan. Walau mungkin mereka belum menerimannya. Jenguklah rasa sakitnya ketika ia sedang tergeletak sakit ditempatnya. Walau masih ada perasaan yang masih mengganggunya. Berilah maaf kepadanya ketika mereka meminta. Walaupun seakan selalu berbuat kesalalahan.
Ungkapkanlah kata-kata yang bisa menjelaskannya. Dengan tulisan saja, walau mungkin bisa dengan kata-kata. Ungkapkan kata-kata dengan tulisan seperti :
|