Cinta dan Kokohnya Tembok Penghalang ?

 

Fansuri, Mahasiswa, 22 thn, Waru. 29 Maret 2005.

 

Assalam.

 

Langsung to the point aja.

Saya punya masalah tentang hubungan antara saya dan calon hubungan saya.
Saya dengan calon saya udah sepakat dan sama-sama saling mengerti tentang bagaimana hubungan saya dan dia kedepan. Tapi dari pihak orangnya yang tidak menyetujui hubungan kami karena faktor yang menurut kami sangat sepele, yaitu masalah suku. Beliau tidak setuju bukan karena tidak seneng dengan sikap saya, karena saya miskin dll.(dia belum tau saya).

Menurut bapak untuk menyikapi problem ini bagaimana ?

 

Wassalam.

 

 

MasIdan.

 

 Kepada : Fansuri

 

Keterkungkungan Adat dan Kualitas Hidup

 

Kami heran dengan sebagian kecil masyarakat kita yang masih mengagung-agungkan nilai dan norma tertentu yang dianutnya. Entah itu nilai yang sudah tertanam pada golongan, ras, tradisi, kedaerahan sampai suku. Seakan mereka berpendapat bahwa nilai yang ada pada kelompok tertentu itu tidak mungkin dimasuki oleh nilai- nilai lain dari suatu kelompok yang lain. Mereka seakan tidak sadar telah mendewakan, mengagungkan, bahkan menuhankan nilai dan norma kelompok itu, sehingga seakan sebagai harga mati. Harga mati untuk tidak boleh dimasuki kelompok lain, apapun alasannya.

 

Mereka tidak sadar bahwa sistem nilai yang ada dalam kelompok tersebut sangat mungkin akan tergilas oleh pesatnya perubahan zaman. Oleh karena itu, kalau mereka tidak pandai-pandai menjawab tantangan zaman yang terus berubah sangat pesat maka akan tenggelam oleh perubahan. Padahal menurut kami, menutup diri akan tantagan zaman sama saja dengan menunggu waktu untuk tersingkir dari peradaban. Atau malah mungkin akan tergilas dan lenyap oleh peradaban yang didorong oleh bergeraknya zaman.

 

Inilah yang tidak mereka sadari atau malah mungkin tidak tahu sama sekali akan realitas (kenyataan) yang akan dibawa oleh kuatnya perubahan. Mereka tidak sadar dan tidak tahu, mengekang diri terhadap nilai-nilai yang ada dalam kelompoknya adalah perbuatan yang ceroboh dan puritan. Yang hanya akan membawa kebodohan dan mandeknya peradabanya. Atau mungkin jangan-jangan mereka keras kepala terhadap nilai-nilai yang ada, hanya karena ada ketakutan-ketakutan, jika ada perubahan maka dirinya akan tenggelam dibawa perubahan. Atau kekhawatiran-kekhawatiran yang bisa membuatnya kehilangan masa depan, kehormatan, ketokohannya dan lain sebagainya.

 

Inilah sikap yang menurut kami sudah terbawa jaman. Karena walaupun tanpa kita usik dan mengganggunya, mereka sudah bisa dipastikan tidak akan mampu menghadapi perubahan. Jadi biarlah mereka tetap mengagung-agungkan kelompok dan sukunya, biarlah waktu dan zaman yang akan menjawabnya. Karena itu anggap saja hak dia untuk mempertahankannya.

 

Namun kita sebagai ingsan manusia yang diciptakan tuhan dengan segala peraturan-Nya, telah diberi kebebasan yang nyata untuk memenuhi panggilan nurani kita. Panggilan nurani untuk berbuat apab saja yang tidak dilarang-Nya. Panggilan nurani untuk menjalani dan melakukan niat yang suci. Maka dari itu, adalah hak kita sebagai insan manusia untuk berusaha melunakkan hati yang membatu. Berusaha dan berusaha mencari jawaban atas sesuatu yang masih keliru. Sebagai jawaban atas keterkungkungan jiwa yang lemah dan rapuh.

 

Mas Fansuri yang galau di hati,

Sebelum kita melangkah jauh ke depan, Anda perlu menanyakan pada diri sendiri. Apakah anda benar-benar seriuskah dengan kekasih (hubungan) anda ? Apakah hanya sekedar emosi diri ? Emosi diri yang banyak terjadi karena merasa ada menghambat, sehingga anda merasa tertantang untuk itu ? Atau hanya sekedar reaksi jiwa muda anda menghadapi keadaan yang anda anggap kurang bijaksana ? Siapkah anda menghadapi resiko dari apa yang akan anda lakukan dan pertanggungjawabkan ? Bagaimana kuliah Anda ? Siapkah anda menghadapi kemungkinan adanya pertentangan-pertentangan yang ditimbulkannya ? Siapkah anda menghadipi kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi, kemungkinan juga tidak ? Dan banyak hal yang harus dipertimbangkan masak-masak untuk meneruskannya ?

 

Tapi seandainya anda mampu, kenapa tidak ? Bukankah kalau kita mau hidup, maka harus berani menghadapi masalah hidup. Dan setiap masalah yang mampu anda hadapi dan pecahkan adalah merupakan kualitas hidup anda yang sebenarnya. Dan semakin anda mampu meningkatkan kualitas hidup, maka anda berhak untuk sering menjadi pemenang dalam persaingan hidup. Dan selama anda sering memenangkan persaingan hidup, maka anda berhak mendapat banyak keberhasilan, kesuksesan, kebanggaan dan kebahagiaan.

 

 

Kesulitan adalah Jalan Menemukan Kemudahan

Hidup hakekatnya masalah, hikmah dan pelajaran. Makanya kita menjadi pandai karena kita sekolah ? Kita jadi kaya karena kita bekerja dan berusaha untuk kaya ? Kita bisa pintar melakukan sesuatu karena kita selalu belajar untuk itu ? Lalu siapa bilang belajar untuk pandai itu gampang ? Siapa bilang bekerja itu enak ? Lalu siapa bilang belajar sesuatu yang sulit itu mudah ?

Siapa bilang ketika belajar, bakerja dan sekolah tidak akan menghadapi masalah ? Masalah adalah hikmah. Hikmah adalah pelajaran. Pelajaran menghadapi masalah akan menentukan kualitas dan kapasitas seseorang. Kualitas dan kapasitas seseorang inilah yang akan menentukan berkembang-tidaknya hidup seseorang. Lalu siapa yang akan bilang bahwa masalah bukanlah hakekat sebuah kesulitan. Lalu mengapa mereka mampu melewatinya ? dan mengapa mereka bisa melakukannya ?

Siapa bilang gunung yang besar tidak mampu kita runtuhkan ? Siapa bilang besi baja yang keras tidak mampu kita luluhkan ? Atau kaca yang bisa ditembus cahaya ? Atau dalam gelap masih bisa kita lihat ? Maka dari iti, tidak ada kesulitan yang tak mampu dipecahkan. Tidak ada kesultan yang tak mampu ditembusnya. Tidak ada besi-baja yang keras tak mampu dilelehkan. Karena adanya kaca supaya ditembus cahaya. Adanya besi baja untuk dilelehkan. Adanya gelap untuk bisa melihat yang ada. Karena dalam kesulitan itu sebenarnya mengandung kemudahan. Ternyata kita hanya butuh cara untuk menembusnya, meluluhkannya, dan memecahkannya.

Dalam kasus anda, mungkin kami hanya akan memberikan contoh dari  kasus yang pernah kami hadapi dan sarankan kepada seseorang. Pada prinsipnya banyak jalan mencapai tujuan. Walau seakan jalan tertutup oleh tembok besar nan kokoh. Namun tiada mungkin tembok tersebut tak berongga. Dan tak selamanya tembok itu tetap kokoh oleh kikisan air yang mengalir. Semua pasti akan bisa tertembus dan roboh oleh waktu, kejelian dan cara untuk melewatinya.

Pada contoh kasus yang pernah terjadi pada seseorang yang mencoba membangun cinta asmaranya menuju pelaminan, namun terhalang oleh ketidaksetujuan salah satu pihak orangtuanya. Karena cinta mereka sudah begitu kuat menancap di hati mereka. Mereka siap menghadapi segala resiko hidup untuk mempertahankan cinta mereka, tanpa harus menanggalkan rasa baktinya kepada kedua orangtuanya yang harus tertunda, karena tidak mungkin bisa menikahkannya.

Mereka mencoba menerawang jauh atas sikap keras orangtuanya terhadap diri mereka sebagai anaknya. Akhirnya mereka menemukan jawabannya, bahwa sikap keras orang tua tidak tertuju pada semuanya. Orangtua mereka ternyata sangat patuh pada ibundanya, yang tak lain adalah nenek mereka ( yang sedang dibuai asmara ).

Walau dengan proses panjang dan berliku, mereka berhasil mendapat dukungan neneknya. Dan kemudian sang nenek itu yang bertanggungjawab atas berlangsungnya pernikahannya. Sang bapak dibuat tidak bisa berkutik dihadapan sikap lembut ibunda tercintanya. Walau ketidaksetujuan itu tetap masih ada dan bersemayam di hatinya.

Waktu terus bergulir dan berputar. Sang cucu (anak) telah ikut menyemarakan kehidupan mereka berdua. Hati yang keras lama kelaman tak mampu untuk bisa bertahan bersemayam dihati yang salah. Cara dan usaha terus menembus kebekuan hati yang tidak pada tempatnya. Akhirnya pelan dan pasti waktu dan kebisuan itu luluh juga. Kebekuan dan kebisuan yang memang tidak ada gunanya menghadapi kesabaran dan kerendahan hati mereka berdua. Akhirnya ketundukan bakti kepada orangtua mereka bisa dibina lagi, tanpa dendam, tanpa amarah dan tanpa masalah. Semua berjalan seakan-akan tak pernah terjadi masalah. Maha Besar Sang Pencipta yang selalu memberi kemudahan kepada siapa saja yang menjalani hidup dengan penuh kesabaran, ketulusan dan ketundukan hati yang dalam.

Inilah contoh cerita, yang mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi anda untuk mencoba dan menghadapinya. Percayalah banyak celah dibalik rapatnya barisan. Banyak rongga di balik benda yang padat dan kuat. Banyak yang bisa kita lihat di dunia yang sangat gelap. Di mana ada kesulitan di sanalah jalan menuju kemudahan. Di mana ada kepedihan hidup di sanalah kebahagian sedang menunggunya.

Bagaimana Mas Fansuri siapkah Anda melakukannya. SELAMAT BERJUANG !