Pacaran hanyalah Pembelajaran Diri !

 

Marla, 19 thn, Mahasiswa, Tanjung Priuk, Jakarta. 15 Juli 2005.

 

To mas Idan,

Aku punya pacar yang umurnya 12 tahun lebih tua dari aku. dia udah kenal sama keluarga ku, tapi aku belom kenal. keliatannya sih dia ga serius sama aku,trus dia juga kurang perhatian sama aku. ga pernah ketemu, ga pernah telpon atau sms.

Sekarang aku lagi deket sama seseorang. Dia ngasih perhatian dan segalanya yang ngga aku dapetin dari pacar aku. dia ga tau kalo aku tuh dah punya pacar. tapi ko lama-lama aku juga jadi suka n sayang sama dia. gimana donk!

Perasaan sayang aku ke pacar aku ko lama-lama jadi pudar. apalagi belakangan ini pacar aku suka nolak kalo diajak ketemuan. alasannya sih lagi sibuk n banyak kerjaan. masa weekend aja sampe ga ada waktu buat aku sih. udah 2 bulan ini aku ga ketemu sama dia,bahkan kalo ga aku sms atau telpon duluan dia ga akan sms aku. kenapa ya sama dia?

Apa mungkin dia udah punya pengganti aku ??

Trus,siapa yang harus aku pilih saat ini....?

 

 

MasIdan.

 

Pacar tak dikenal adalah keanehan yang membingungkan.

Mempunyai pacar yang tak dikenal memang aneh dan membingungkan. Padahal hakekat dari pacaran itu sendiri adalah untuk saling lebih mengenal dan belajar menyesuaikan keadaan diri. Saling lebih mengenal dan belajar menyesuaikan diri dari dua insan yang jelas-jelas berbeda kemauan dan harapannya. Mengenal dan menyesuaikan diri akan keadaan diri yang butuh belajar untuk berkomunikasi. Selanjutnya pada akhirnya, bukankah sebuah rumah tangga butuh sebuah komunikasi ?

 

Aneh dan membingungkan oleh sebab proses pembelajaran yang seharusnya, menjadi tidak ada dan hampa. Padahal (suatu saat) penyatuan jiwa oleh sebuah perkawinan, haruslah diperlukan adanya sebuah komunikasi yang menjembataninya. Sebab, kelak suatu ketika, perkawinan adalah tekad dan kesiapan dua insan untuk menjalani hidup selanjutnya. Perkawinan adalah sebuah kesepakatan akan sikap dan kesiapan memasuki bahtera rumah tangga. Nah, kesepakatan, sikap, tekad, harapan dan kesiapan yang ada pada dua insan inilah yang menjadi modal dasar menjalani hidup berumah tangga.

 

 

Pacaran pada dasarnya adalah pembelajaran memahami insan yang berbeda.

Pacaran adalah proses pembelajaran memahami calon pasangan yang ada. Saling menyuka dan menyinta dua insan yang berbeda, tentu akan memberi irama tersendiri dalam prosesnya. Suatu proses di mana dua insan tersebut mencoba memahami dan memaknai hubungan mereka sebagai diri dan pribadi orang lain. Sebagai diri yang mempunyai nuansa kehidupan sendiri. Sebagai pribadi yang lainnya yang juga punya kehidupan dan pandangan sendiri. Inilah proses pembelajaran alami yang akan terjadi pada dua insan manusia untuk bisa memaknai dirinya sendiri.

 

Pacaran juga sebagai alat untuk belajar memahami kehidupan diri dan pribadi orang lain sebagai pasangannya ataupun calon pasangannya. Nah, pacaran itu sendiri memberi makna akan adanya ilmu tentang bagaimana memahami dan mengerti calon pasangannya. Disamping itu, pacaran juga sebagai ilmu tentang diri yang dituntut untuk belajar menempatkan diri ketika sudah merasa ada calon pasangan yang akan mendampinginya.

 

Di sanalah berkembang menjadi ilmu yang di dalamnya memuat banyak hal tentang hubungan dua insan yang terjadi. Maka pengkianatan, kesetiaan, cinta, kesalahpahaman, kecemburuan, komunikasi dan lain sebagainya, menjadi satu dalam ilmu tentang bagaimana kita akan belajar banyak hal pada hubungan itu sendiri.

 

Sebab di sanalah juga, kita akan banyak belajar akan irama yang ditimbulkan akibat hubungan itu. Ini tak jauh berbeda dengan kita, ketika kita berhubungan dengan keluarga atau masyarakat kita, hubungan itupun akan dipenuhi warna dan nuansa yang bermacam-macam. Maka jangan heran kalau kita berada dalam hubungan keluarga, famili ataupun dengan masyarakat, kita akan dihadapkan pada keadaan suka dan tidak suka. Kita akan dihadapkan pada keadaan senang dan tidak senang, sepaham ataupun tidak, cocok ataupun tidak cocok, atau segala bentuk hubungan yang ditimbulkannya.

 

Inilah irama hidup yang selalu akan kita pelajari, hadapi dan jalani pada setiap hubungan dengan siapapun juga. Semakin jauh jarak hubungan yang ada, maka irama yang ditimbulkannya akan serasa sayup-sayup tanpa masalah. Sebaliknya semakin dekat hubungan tersebut, maka iramapun akan semakin terdengar jelas. Semakin dekatnya hubungan serta terdengarnya irama dengan jelas, pastilah akan banyak menimbulkan pernik-pernik masalah yang akan ditimbulkannya. Sebagaimana hidup, semakin kita ingin mengerti tentang hidup, maka kitapun dituntut untuk banyak menghadapi masalah hidup, yang harus dipahami dan dimengerti.

 

Demikian juga dengan pacaran, sebagai buah dari rasa ketertarikan dua insan yang menjadi begitu dekat. Begitu dekat karena masing-masing seakan saling mencari dan dicari. Begitu dekatnya sehingga merekapun diharuskan belajar tentangnya (hubungan itu). Diharuskan belajar tentang pernik-pernik hidup yang dimunculkan darinya. Pernik-pernik masalah hidup, ada yang suka dan ada yang nestapa, ada yang penuh perhatian dan serasa ada yang terlantarkan, ada perbedaan, kesalahpahaman dan lain sebagainya. Walaupun awalnya pastilah membuat kita berbunga-bunga karenanya. Dan tentunya, hidup tidaklah akan terus dan terus dipenuhi dengan bunga-bunga. Kemudian merekapun akan selalu dihadapkan pernik-pernik masalah yang nyata.

 

Nah ! pernik-pernik masalah kehidupan yang ditimbulkan oleh begitu dekat hubungan yang ada, menjadi tidaklah bia dihindarkannya. Kemudian mereka harus menghadapinya, suka maupun tidak suka, sadar maupun tidak sadar, siap maupun tidak siap, pokoknya semua yang akan muncul pastilah akan dihadapinya. Semua itu tidak bisa tidak, karena pastilah ada.

 

Di sinilah banyak orang yang lebih cenderung mudah meninggalkannya dan memutuskannya dari pada menjaganya. Lebih mudah memutuskannya akibat hubungan yang ada tanpa disadarinya, harus dihadapkan pada pernik-pernik kehidupan yang ditimbulkannya. Inilah yang pantas untuk disesaliya, oleh sebab mereka kurang banyak mencari makna di balik itu semua.

 

Selanjutnya merekapun dengan mudah berpindah hanya karena menyalah-maknai efek-efek masalah yang pasti muncul dari hubngan yang begitu dekat itu. Dan tentu saja kalau mereka lebih mudah memilih berpindah daripada menjaga, maka merekapun banyak kehilangan makna dari hidup yang utama, yaitu menjaga. Hidup yang menjaga, agar supaya kita tidak menyerah pada kesalahpahaman dan keegoisan yang nyata. Sebab kalau mereka mau, maka peluang besar untuk bisa membangun yang lebih sempurna sangatlah terbuka lebar. Dan sikap yang tumbuh dari usaha untuk selalu berusaha menjaga akan sangat bermakna ketika suatu ketika kita berumahtangga. Sebab satu bagian terpenting memperkuat kokohnya bangunan rumah tangga adalah bagaimana kita bisa saling menjaga !

 

Dan sadarkah mereka jika selalu mudah memutuskan daripada menjaga, ternyata malah selalu menghadapi persoalan yang sama. Sama seperti yang semula, yaitu persoalan yang selalu muncul dibalik hubungan dekat yang selalu ingin dibangunnya. Demikian seterusnya, sehingga sikap yang mudah memutuskan ternyata malah banyak kehilangan makna. Kehilangan makna akibat merasa mereka selalu sama. Selalu sama, karena merasa sudah ada yang banyak berkurang dari semula atau awal-awalnya. Merasa awalnya penuh perhatian dan segalanya, akan tetapi kenapa ketika sudah berlangsung cukup lama, semua seakan pudar dan meredup adanya. Kenapa dan kenapa musti harus bekurang dan tidak seperti awal-awalya ? Kenapa dan kenapa  musti terus terjadi dan terjadi ? Boleh percaya boleh tidak, ternyata kita sudah banyak kehilangan makna ! Kehilangan makna sebagaimana hidup lebih baik menjaga daripada meninggalkannya !

 

Kalau tidak percaya boleh dicoba, sebab pastilah akan menghadi persoalan yang sama ! seperti yang sebelumnya. Akan dicoba lagi, maka tidak ada persoalan lain kecuali persoalan yang sama ! Sebab beginilah hidup, kalau kita kurang mampu mengungkap makna yang ada. Dan kitapun akan selalu kelimpungan dibuatnya.

 

 

Saran dari keluarga dan orang lain (yang bijak) harus dipertimbangkan.

Entahlah kami merasa ada yang disembunyikan dari persoalan yang ada. Bagaimana tidak, kenapa anda bisa menganggap pacar akan tetapi anda tidak mengenalnya. Ini sungguh aneh dan sangat membingungkan kami. Akan tetapi kami bisa menerimanya, sebab segala sesuatu pastilah bisa saja terjadi, sebab memang inilah hidup yang harus diungkap maknanya.

 

Untuk itu tidak ada jalan lain yang mungkin bisa kami sarankan kepada anda, yaitu hanyalah orang yang bijak yang ada disekitar hubungan yang ada. Inipun sebaiknya pihak keluarga anda lebih dulu dimintai saran dan masukan tentang hubungan anda yang cukup aneh itu. Sebab (mohon maaf lho !), saya masih melihat anda masih terlalu lemah untuk memutuskannya atau mengambil langkah selanjutnya. Dan orang bijak yang kami maksud di atas, adalah orang yang tahu tentang anda, pacar anda yang sepertinya tidak memperhatikan anda itu, dan teman baru yang seakan dipenuhi perhatian dan segalanya itu. Dan orang bijak yang dipilihpun benar-benar sudah dewasa pemikirannya, serta kata-katanyapun bisa membuat semua bisa memahaminya. Untuk itu, janganlah salah memilih orang bijak yang akan menentukan hidup anda itu.

 

 

Masalah perhatian dan segalanya, bukanlah jaminan lebih hebat karenanya.

Sebab maaf, kami masih sangsi dengan perhatian dan kebaikan teman baru anda itu. Benarkah perhatian dan kebaikannya itu terlahir dari jiwa yang iklas dan penuh kedewasaan. Ataukah hanya terlahir dari seorang pemancing yang tau umpan yang akan diumpankan pada ikan yang sudah dikenal dan diketahuinya. Jangan-jangan memang telah menjadi hobinya memancing ikan. Dan kalau toh sudah mendapat ikannya, merkapun tak mau tahu dengan si ikan itu. Mau di masak ataupun diberikan tetangga, terserah ! lha wong hobinya saja memancing ikan. Namun, beruntunglah si ikan kalau ternyata masih diharapkan untuk dimasaknya. Akan tetapi, bagaimana kalau sudah didapat namun kemudian diterlantarkannya. Kan hobinya cuma memancing ! Apa urusannya dengan si ikan ?

 

Sekali lagi kami mohon maaf, kalau kami seakan terlalu berprasangka buruk. Kami hanya menginginkan anda selalu berhati-hati menjalani hidup ini. Sebab banyak sekali perangkap-perangkap hidup yang telah dibuat oleh orang-orang bodoh dan tak tahu diri itu. Atau bisa juga karena ketidaktahuan kita tentang rumitnya hidup ini, malah kita sendiri yang dengan tidak sadar membuat perangkap untuk diri kita sendiri, kan tidak lucu lah ya !

 

Sebab kami juga heran dan tak habis pikir, kenapa banyak dari mereka tega-teganya melucu di atas perangkapnya sendiri, atau melucu diatas kepedihan sendiri. Yah mungkin saja mereka melakukan, karena merasa tidak mungkin orang lain bisa melihatnya. Atau bisa saja mereka tidak menyadari juga, atas kelucuan yang penuh luka itu selalu dipentaskannya. Atau mungkin saja karena kesombongan yang ada pada dirinya, sehingga merekapun tidak menyadarinya ada yang bisa melihat kehampaan hidupnya. Kami sangat sedih dan kasihan sama mereka itu, akan tetapi kami yakin sebagian dari mereka akan menyadari dan menyesalinya, tentang lelucon yang ternyata sangat hampa itu. Untuk ini, kami berharap anda untuk tidak meniru dan mengulangi nasib mereka.

 

 

Belajarlah mengkomunikasikan dulu, apa yang sebenarnya terjadi ?

Tanyakan juga pada keluarga anda dan orang bijak yang ada, kenapa si dia berbuat seperti itu, apa yang terjadi padanya dan apa yang salah pada diri anda. Inilah yang perlu dilakukan untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Inilah juga yang kami sebut belajar membangun komunikasi, yang kelak sangat berguna untuk membangun kebahagian hidup anda yang akan datang.

 

Sebab hidup sebenarnya hanyalah sebongkah masalah yang harus selalu kita hadapi. Untuk memecahkan masalah tentu saja kita dituntut memetakan masalah yang ada. Demikian sehingga kita bisa memutuskan langkah apa yang perlu di ambil dari masalah yang ada. Nah, pemetaan masalah hidup sangatlah mustahil tanpa adanya komunikasi yang harus dilakukan. Karena semua ini berhubungan dengan gerak langkah insan manusia yang mempunyai jiwa di dalamnya, sehingga kita bisa mudah salah hanya karena kita selalu menilai yang nampak-nampak saja. Sebab kami ingatkan juga, bahwa sikap dan prilaku yang nampak sangatlah mungkin berbeda dengan apa yang ada dalam jiwa dan hati yang ada. Untuk ini berhati-hatilah menilai sesuatu yang ada tanpa adanya komunikasi untuk memperjelas kenyataan yang ada.

 

Kemudian setelah anda melakukan langkah-langkah yang kami sarankan dan bisa memahami apa yang terjadi, barulah saatnya anda menentukan pilihan yang memang pantas untuk dipilihnya. Bagi kami kedua-duanya berpeluang untuk dipilih. Akan tetapi bagi kami, menjaga lebih penting daripada mudah meninggalkan kenyataan hidup yang harus selalu dihadapinya. Kenyataan hidup yang selalu silih berganti, entah dari suka kemudian nestapa, atau dari senang kemudian susah, pokonya semua yang seakan harus silih berganti tiada henti, sebab memang beginilah hidup agar bisa dinikmati. Menikmati hidup yang pasti akan silih berganti. Bisa menikmati, jika kita bisa berusaha menjaga yang sudah ada. Menjaga yang sudah ada supaya kita tidak banyak kehilangan makna. Banyak kehilangan makna, hanya karena kita mudah terlarut dalam hidup yang harus selalu barganti.

 

 

Janganlah gegabah menilai sesuatu yang nampaknya saja !

Belajarlah untuk hidup yang tahu apa yang terjadi !

Untuk itu belajarlah selalu membangun komunikasi !

Belajar membangun komunikasi, sehingga tahu apa yang sebenarnya terjadi !

Supaya kita tidak mudah banyak kehilangan makna yang sejati !

Makna sejati yang ada dibalik pernik-pernik hidup ini !

Supaya kita menjadi kaya dengan makna hidup ini !

Kaya makna yang akan menunutun kebahagian hidup yang sejati !

Selamat merenung dan memilih untuk hidup !

 

Ingat jangan sampai ketinggalan satu topikpun, karena disana banyak rahasia hidup yang telah banyak dilupakan oleh sebagian besar orang. Dijamin ! Kalau anda bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari semua topik yang ada, Niscaya serasa jiwa anda baru bangun dari tidur yang terlalu lama !. Terimakasih !