|
*** Ber-Amal ! Sekaligus Mendapat Jasa ! *** *** Waspadai Sumber Keonaran & Kericuhan di Lingkungan Anda ! ***
Menempatkan Sesuatu tidak pada Tempatnya ?
N. Lanto, Pelajar, 23 thn, Semarang. 6 April 2005. Di rumah saya ada adek, ayah, ibu dan nenek dari ibuku beserta aku, kakakku skrng di jakarta. disisi lain aku menganggap ini adalah masalah kecil. tapi selalu mengganggu dalam pikiranku selama ini. aku punya nenek yang selalu pintar dalam membolak-mbalikkan perkataan. aku tau selama ini aku dan kakakku selalu di teror terus mentalnya sejak SMP. aku tetep bisa memahami. tapi selalu mengganggu dalam pikiranku. disisi lain aku kasihan dengan dia tapi aku merasa dimusuhi. selalu diteror lewat fitnah2 dan dijelek2kan dengan dalilnya yaitu seolah2 dia orang tua yang disakiti. Padahal dianya yang selalu menyakiti. udah tau dia itu orang tua tapi kata2nya kalo dalam tokoh pewayangan itu yaitu sengkuni... ya sengkuni wanita.... aku kasihan dengan adikku nanti yang sekarang baru berumur 8 tahun. karena ayah dan ibu semua bekerja. lha yang dirumah itu hanya seorang tua yang mau mati aja, masih juga suka fitnah, memusuhi hanya karena iri karena anaknya kan 2 orang yaitu ibuku dan yang satunya laki2. hanya karena anak laki2nya nggak seperti ibuku yang mungkin udah bisa nguliahkan dua orang anak ampe lulus yaitu aku dan kakakku saja dia mempunyai rasa iri dengan selalu menjelek2kan cucunya di mana2.... sengkuni... dia adalah sengkuni wanita dengan dalil orang yang sudah tua......??????? MasIdan.
Memang Lelucon dari Sono-nya Mas Lanto yang sedng kecewa berat, Kami sangat hean dengan nenek Saudara Lanto ini. Ada sesuatu yang nggak beres telah terjadi padanya. Sehingga beliu bertindak tidak sewajarnya. Segalak-galaknya seorang nenek kepada seseorang (misalnya ibu anda sebagai anaknya atau dengan orang lain), tidaklah akan sama ketika menghadapi cucunya. Inilah yang kami herankan terjadi kepada anda. Namun sayang anda telah menanggapi dengan serius masalah tersebut. Sehingga anda merasa tertekan karenanya.
Lho kok ? Ada cerita menarik dari seseorang, yang kebetulan mempunyai tetangga yang amat-sangat galaknya. Kegalakannya sudah sangat dikenal di lingkungan sekitar, tempat ia tinggal. Banyak orang heran dengan sikap dia (seseorang itu) Karena kebetulan tempat tinggalnya bersebelahan dengan si suka galak tersebut. Dia sangat sering kena damprat dan makian yang keluar dari mulutnya.
Banyak orang heran dengan sikapnya yang terkesan biasa-biasa saja bahkan nyaris tenang sama sekali, tanpa reaksi. Ketenangan menghadapi kegalakan yang sering tak terduga. Suatu ketika, ada orang yang bertanya kepadanya. Kenapa ia selalu tanpa reaksi menhadapinya (kebetulan orang yang galak tersebut juga seorang nenek yang sudah bau tanah juga). Dengan entengnya pula ia menjawabnya. Katanya, apa untungnya menanggapi nenek itu. Ia juga beranggapan dan tahu bahwa semua orang sudah tahu dengan semua prilakunya. Sehingga ia sangat yakin bahwa ungkapan dan makian yang keluar dari mulutnya, tak akan memberi pengaruh apa-apa, sebab telah diketahui banyak orang bahwa ucapannya sama sekali tidak punya arti apa-apa. Karena memang begitulah adanya.
Semua orang pasti akan memakluminya atas perbuatannya yang memang tak bermakna apa-apa. Semua orang tidak akan menganggapinya. Malah banyak orang akan mentertawakan perbuatan-perbuatannya. Ulah yang telah dianggap banyak orang sebagai sebuah lelucon. Sebagai lelucon karena memang begitulah perangainya, yang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Maka wajarlah menempatkan sesuatu yang tidak pada tempatnya, justru menjadi sebuah lelucon yang tak disengaja.
Makanya jangan mau membuat lelucon yang hanya karena menanggapi sesuatu yang tidak pada tempatnya. Tidak pada tempanya, karena semua orang sudah tahu bahwa ulahnya tak akan berarti apa-apa. Jadi, menanggapi sesuatu yang tidak berarti apa-apa, malah akan menambah lucu lelucon yang ada. Untuk itu, berusaha menempatkan suatu perbuatan dan sikap itu pada tempatnya. Dan berusahalah tidak menanggapi sesuatu yang jelas-jelas tak mempunyai arti apa-apa. Supaya kita tidak terjebak pada lelucon yang telah diperankan seseorang. Karena kalau tidak, kita justru akan menambah lucu lelucon tersbut.
Selanjutanya ia juga menceritakan, suatu ketika ada orang yang menanggapi ulahnya. Lalu apa yang terjadi pada orang tersebut, yang telah menanggapinya. Tentunya ia akan naik darahnya, mukanya menjadi merah menyala karena telah terpancing dengan ulahnya dan telah menanggapinya dengan cara yang sama. Tentu saja bagi nenek itu telah menjadi kerjaan rutinnya. Sehingga rutinitas bisa dikatakan tak akan membawa efek apa-apa. Namun bagaimana dengan orang yang menanggapinya. Sesuatu menjadi tak terduga, karena ia malah ditertawakan tetangga-tetangganya. Karena tiada guna menanggapi orang yang memang itulah satu-satunya pekerjaannya.
Betapa malu dan kagetnya orang tersebut. Padahal darah sudah terlanjur naik tak terkira, mukanya sudah terlanjur merah menyala, dan amarahnya sudah terlanjur membanjiri dirinya. Tentu saja bagi orang tersebut membuat efek yang tidak bisa dikatakan ringan adanya, serta butuh waktu untuk menurunkan keadaaannya. Efek yang bisa terbawa-bawa sampai di rumahnya. Tentu saja ia bisa membawa hawa panas itu ke keluarganya. Jadilah keluraganya harus menerima hawa panas itu akibatnya. Keluarga yang sebenarnya tak tahu apa-apa. Tapi kenapa harus menanggung semuanya, hanya karena ulah nenek-nenek yang memang sudah kerjaannnya. Lalu siapa yang bodoh mau terjebak dengan ulahnya, yang sama sekali tiada bermakna. Sudah begitu, e...masih ditertawakan tetangga-tetangganya. Sudah tertekan karena amarah, malah ditambahi, telah dianggap menambah lucu sebuah lelucon, yang tak disenagajanya. Kasihan benar dia.
Belum lagi kalau darahnya masih sulit untuk diredakan. Berapa kerugian yang akan dideritanya, akibat suasana hati yang masih tertekan karena emosi yang tak tertahankan. Suasana hati yang tak akan mendukungnya melakukan semua aktifitas pekerjaan yang lainnya. Semua pekerjaan menjadi sangat berat dilakukan karena konsentrasi yang buyar akibatnya. Berapa kerugian yang harus ditanggungnya, hanya menanggapi sesutu yang tiada guna.
Belum lagi kalau ternyata tekanan jiwa yang kian terasa itu sudah mempengaruhi fisiknya, karena menyebakan darah tingginya menjadi kambuh karenanya. Dengan terpaksa orang itu harus mengeluarkan biaya hanya untuk membeli obat dan memeriksakan keadaannya. Keadaan yang dibuatnya hanya karena menanggapi sesuatu yang tiada berguna. Lalu siapa lagi orang yang bodoh mau menanggapi sesuatu yang tidak pada tempatnya. Lalu siapa lagi orang mau-maunya menanggung kerugian yang tak kecil akibatnya, hanya karena menanggapi sesuatu yang tiada guna.
Mas Lanto yang merasa tertekan jiwanya, Kini saatnya anda untuk bisa mengendalikan diri dari ulahnya (fitnah, menjelekkan dan segala tindakan yang membuat anda marah karenanya). Karena percayalah, bahwa itu semua tidak akan membawa pengaruh apa-apa.
Lho kok bisa ? Lho bukankah anda yang justru harus menerima resiko dari perbuatannya. Sehingga anda merasa tertekan karena ulahnya. Ulah yang sama sekali tidak berarti apa-apa. Kami yakin orang tua anda tahu itu semuanya. Namun mereka terpaksa sedikit membelanya. Ini sangat wajar, karena posisi ibunda anda sebagai anak dari nenek anda. Walaupun beliau tahu siapa sebenarnya nenek anda dan apa yang telah terjadi pada anak-anaknya, mengenai hubungannya dengannya.
Ibunda anda tentu saja tak mampu berbuat apa-apa kecuali hanya berusaha untuk memahamkan kepada anda tentang dia. Sebab kalau ibu anda mau berkata sejujur-jujurnya, pasti tak ingin terjadi apa-apa dengan anaknya (misalnya menjadi tertekan karenanya). Namun beliau tak mampu berbuat apa-apa dan tak ada yang dapat dilakukannya, kecuali hanya bisa menerima apa adanya walaupun harus dengan terpaksa. Sebab nenek anda adalah ibunya.
Percayalah mas Lanto, tak ada gunanya menanggapinya karena memang tidak berarti apa-apa. Oleh karena itu, tak ada gunanya memaknai fitnah, menjelek-jelekan dan semua perbuatan yang seakan akan memberi gambaran buruk terhadap dir anda. Sebab tidak hanya orang tua anda yang tahu siapakah sebenarnya dia. Namun juga tetangga dan kerabat anda pasti banyak yang tahu siapakah sebenarnya dia. Sedemikian sehingga mereka tidak akan memaknai kata-katanya dan perbuatannya dengan makna yang sebenarnya. Karena mereka tahu siapakah nenek anda sebenarnya.
Mungkin saja bisa terjadi, orang bisa menjadi salah paham tentang anda akibat omongannya. Namun kesalahpahaman itu hanya berlaku sementara. Karena suatu ketika orang lain akan menjelaskannya, apa yang terjadi sebenarnya. Jadi untuk apa ditanggapi, kalau semua orang tahu siapakah sebenarnya dia itu. Lalu kenapa anda bersusah payah harus menerima resiko yang anda rasakan sendiri akibat perbuatannya. Perbuatan yang semua orang tahu, tidak akan memberi arti dan pengaruh apa-apa.
Lalu untuk apa anda harus menerima resiko menderita tekanan jiwa akibat menanggapi perbuatannya. Perbuatan yang sama sekali tidak mengandung makna apa-apa. Malah anda sendiri yang harus menanggung penderitaan itu. Jadi kenapa anda mau-maunya harus merugikan diri sendiri. Merugi akibat suatu perbuatan yang dimulai bukan dari anda sendiri. Akan tetapi perbuatan yang dimulai dan dilakukan oleh orang lain. Lalu anda menanggapinya seakan khawatir akan memberi pengaruh buruk tantang gambaran orang terhadap diri anda. Dan kemudian anda kecewa, marah dan benci karenanya.
Marah, kecewa dan benci karena anda telah menanggapi dengan serius kata-katanya. Kemudian anda merasa diterornya dengan ulah-ulahnya. Demikian seterusnya dan seterusnya mengakibatkan anda semakin tertekan karenanya. Demikian terus dan seterusnya seakan anda merasa tidak betah tinggal di rumah anda sendiri. Hanya anda menanggapi dengan serius omongannya. Menanggapinya dengan serius, yang malah tidak menutup kemungkinan anda akan ditertawakan orang. Ditertawakan karena anda telah dianggapnya telah menambah lucu lelucon yang sudah ada dari 'sono'-nya.
Jadi kenapa anda harus menaggapinya jika ternyata malah ditertawakan orang. Ditertawakan orang karena mereka sudah tahu lelucon yang memang telah lama ada. Jadi kenapa anda harus menanggapinya, kalau ternyata anda malah yang harus menerima kerugian-kerugian yang tiada guna. Kerugian-kerugian yang malah menambah jiwa semakin merana karenanya. Kerugian-kerugian yang harus diterimanya hanya karena menuruti keinginan untuk menanggapinya. Lalu kenapa harus menanggapinya kalau ternyata hanya mendapati kerugian-kerugian yang nyata. Lalu kenapa dan kenapa harus menanggapinya kalau ternyata semua tiada berguna.
Bagaiman mas Lanto, apakah anda terus menuruti keingina hati anda untuk menaggapinya. Menanggapi omongan-omongan yang sama sekali tiada bermakna apa-apa.
Maukah anda terus-menerus semakin tertekan jiwa anda, sehingga anda semakin mudah marah akibatnya. Seberapa kerugian yang anda diderita akibat emosi yang sudah mencapai ubun-ubun anda. Tentu saja ini akan berdampak pada kosentrasi anda melakukan banyak aktifitas yang harus anda kerjakan. Akibat hawa panas yang dibawa oleh emosi anda, tentu saja akan membuyarkan kosentrasi anda untuk beraktifitas yang lainnya. Berapa kerugian yang harus anda derita akibatnya.
Karena emosi anda, apa yang akan tercipta di dalam suasana rumah anda. Tentu saja semakin lama anda merasa seperti tinggal di neraka. Nereka yang telah tercipta karena emosi menanggapi sesuatu yang tak berguna. Lalu kenapa anda harus menanggapinya kalau ternyata anda harus menderita karenanya. Hanya karena anda menanggapi omongan-omongan yang sebenarnya tidak mempunyai arti apa-apa.
Bagaimana Mas masih ingin terus menciptakan kerugian-kerugian yang harus dideritanya sendiri ?
Masalah adik anda yang masih kecil itu, suatu ketika kalau sudah beranjak remaja tidak ada jeleknya untuk dijelaskan tentang sesuatu yang harus tak ditanggapinya. Sesuatu yang memang nyata-nyata tanpa makna. Sehingga menjadi paham tentang semua yang akan dan telah terjadi dalam keluarganya. Kami yakin adik anda akan mampu memahaminya, suatu ketika. Sehingga tak mudah terpancing tentang sesuatu yang memang tidak berguna. Selanjutnya ia akan menjalani hidup sebagaimana mestinya. Hidup yang tak akan mengulangi pengalaman anda yang menderita karenanya. Sebab ia tahu siapa sebenarnya neneknya itu, sebagaimana orang lain yang sudah mengetahuinya. Mengetahui adanya seorang nenek yang menempatkan sesuatu tidak pada temapatnya sehingga semua menjadi tanpa makna, tak berpengaruh apa-apa, dan sama sekali tak berguna perbuatannya.
Bagaimana Mas Lanto ? Selamat merenungkan dan berusaha menempatkan sesuatu pada tempatnya, sehingga dapat menjalani semuanya seperti apa adanya. Dan suatu ketika anda mulai merasa betah tinggal di rumah anda sendiri. Dan anda mulai bisa tersenyum menahan tawa suatu ketika, karena omongan-omongan yang tiada guna itu selalu mewarnai hari-hari anda. Dan anda sudah mulai menyadarinya bahwa itu semua sudah menjadi kerjaannya. Suatu pekerjaan yang sama sekali tidak berguna dan bermakna.
Selamat menjalani hidup anda yang lebih bermakna ! Terimakasih !
|