|
Sex, Wanita, dan Kemapanan Hidup !
Fadli, Swasta, 30 thn,
Tebet. 27
Maret
2005. dear duhgusti,
1. bagaimana caranya saya me-maintain hubungan suami-istri biar
2. apa yg harus saya lakukan untuk menghadapi istri yg sedikit keras
3. bagaimana caranya saya berhemat? mengingat saya baru memiliki anak
mungkin ini dulu, sekian dan terimakasih banyak atas saran-sarannya
Hormat saya, Fadli.
MasIdan.
Kita dan Mereka adalah Mahkluk yang Berbeda.
Kebutuhan sex pasangan muda memang pada umumyan menghadapi kendala dalam masalah tentang kebutuhan sexnya. Kebutuhan sex seorang pria rata-rata meningkat antara umur 20 sampai 35 thn, dilain pihak kebutuhan sex seorang wanita baru mulai meningkat kira-kira antara 30 sampai 40 thn. Masalah inilah yang membuat ketidakselarasan hidup berumah tangga pada pasangan muda. Namun ini sebenarnya dinamika dalam hidup berumahtangga. Sebuah dinamika yang diharapkan memuncul adanya saling komunikasi dan saling pengertian atas kedua belah pihak.
Masalah kebutuhan sex pada tahun-tahun pertama memang tidak menemukan masalah. Hal ini disebabkan pasangan muda baru menikmati bulan-bulan yang kata orang penuh madu. Pada saat-saat seperti ini faktor ego yang bisa memunculkan kesalahpahaman masih terlupakan oleh keduabelah pihak. Dan ini biasanya akan berlangsung sampai menghadapi tahun kedua. Tahun-tahun yang ada hanya kasih dan sayang yang baru terungkap pada diri keduanya.
Menginjak tahun ke dua biasanya mulailah muncul kesalahpahaman-kesalahpahaman yang dipicu oleh egoisme dan sifat-sifat dasar yang sudah ada sejak sebelumnya. Ego dan sifat dasar yang harus ada pada insan manusia yang berlainan jenis. Ego dan sifat yang berbeda sudut dan pandangnya. Ego dan sifat yang mudah memunculkan kesalahpahaman dalam berumahtangga. Inilah rahasia kehidupan insan manusia untuk dituntut membangun komunikasi dan saling mengerti akan perbedaan ini. Saling memberi sinergi atas perbedaan-perbedaan yang ada pada diri yang pasti. Yang pasti akan ada pengakuan tentang kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sedemikian rupa sehingga perbedaan, kelebihan, dan kekurangan harus menjadi sebuah senergi. Sinergi untuk menciptakan kekuatan yang pasti. Kekuatan yang pasti dalam membangun rumah tangga yang dipenuhi inspirasi, motivasi, sinar keceriaan, kekuatan dan prestasi. Prestasi yang mendorong rumah tangga yang kokoh dan kuat penuh dengan semerbak harum wewangian bunga-bunga kebahagian, kejujuran dan kekangenan. Dan kemudian selanjutnya kekuatan rumah tangga itu akan sangat mendorong laju ekonomi yang terus berkembang dengan cepat karenannya.
Mas Fadli yang penyabar dan penuh pengertian, masalah sex bukanlah masalah yang sederhana dalam rumah tangga. Masalah sex ibarat detak jantung dalam badan dan jiwa. Terganggunya detak jantung bisa mengakibatkan terganggunya organ-organ lain dalam tubuh manusia. Ganguan detak jantung yang tidak segera diatasi akan membuat gerak tubuh tidak selaras dan tergangu semangat jiwanya. Detak jantung yang tidak segera diatasi akan bisa menimbulkan banyak komplikasi. Jadi jangan biarkan detak jantung ini melambat dan berhenti. Cobalah dan cobalah bangun komunikasi. Komunikasi yang sangat bijak, saling mengerti, mengisi dan saling mengasihi.
Komunikasi dalam menyepahamkan jalan hidup berumahtangga sebagai kebutuhan yang pasti . Menjalin komunikasi ternyata bukanlah persoalan yang mudah dalam menyatukan dua jiwa yang penuh impian dan ilusi. Impian dan ilusi yang memang sudah diharap-harapkan sejak lama oleh siapa saja sejak hidup sendiri, siapa saja yang ingin hidup penuh arti. Oleh karena itu, membawa impian orang kepada impiannya sendiri tak semudah membalikkan tangan. Apalagi dikuti dengan pemaksaan diri dan mau menangnya sendiri, maka komunikasi menjadi kurang berarti.
Komunikasi juga tidak harus dengan seperti diskusi, namun diskusi menjadi sangat berarti jika sudah mampu menjembatani. Perumpamaan dan memahamkan atas suatu kasus yang terjadi (misal : kasus cerai, rumahtangga yang berantakkan, dll di TV ata media lainnya) juga bisa dijadikan alat untuk bisa memulai komunikasi.
Jadi menjaga suatu rutinitas dalam rumah tangga adalah sebuah kesepakatan yang harus saling memahami dan saling mengerti akan arti dari semua itu. Saling mengerti dan memahami tentang jalan apa yang akan ditempuh dalam menegakkan rumah tanggan yang penuh senergi, inspirasi dan motivasi yang mendorong mempercepat roda ekonomi. Rumah tangga yang jauh dari godaan-godaan yang tampak menarik dipandang mata saja. Godaan-godaan yang penuh jebakan-jebakan yang menjerumuskan siapa saja yang terperangkap di dalamnya. Dan mata hati kami, kami sangat yakin, Mas Fadli mampu melakukannya.
Untuk mengetahui lebih banyak tentang siapa itu wanita Klik>>>Aku Mencintai Wanita Lain ? ( Wanita dan Misteri ? ) >>> Suami Membunuh Istri ? ( Laki-laki dan Wanita adalah Sifat yang berbeda.).
Untuk memperluas tentang permasalahan rumah tangga Klik.>>Suamiku dengan Kemenakanku ? >>> Artis Suka Cerai ? >>> Suamiku Telah Berubah.
Wanita, Keras Kepala dan Tak Mudah Percaya
Inilah wanita yang mempunyai tipikal dasar seperti nampak keras kepala, namun yang sebenarnya terjadi adalah sikap emosional wanita yang menganggap remeh sesuatu yang sebenarnya penting. Inilah yang menjadi bawaan sifat wanita pada umumnya, yang cenderung meremehkan hal-hal penting kepada orang yang sudah lama dikenalnya (misal, suaminya). Ini terjadi karena kekurangpahaman dan kekurangtahuan tentang sesuatu masalah yang sebenarnya.
Mereka umumnya tidak mudah memahami sesuatu langsung pada inti permasalahan, mereka lebih senang mengunakan perumpamaan-perumpamaan atau contoh-contoh yang bisa menyentuh hatinya, kemudian berharap sesuatu yang menyentuh itu tidak terjadi pada dirinya. Pada saat-saat seperti ini kalau anda mampu mengarahkan pada sesuatu yang anda harapkan, tanpa menyadari bahwa anda memang berusaha mngarahkan pada permasalahan yang anda inginkan, maka mulai saat itulah anda bisa mulai mengembangkan ke penyelesaian masalah yang diharapkan.
Membawa istri untuk tertarik pada cerita, contoh-contoh dan berita-berita yang terkait dengan masalah kalau tidak hati-hati, juga akan berdampak pada sikap yang anti pati, meremehkan dan menganggap cerita-cerita yang anda bawa atau sampaikan kepadanya hanya karena anda ada maunya. Sehingga yang terjadi sering malah tidak tepat sasaran dan tak mau tahu akan cerita itu. Maka dari itu, kita harus pandai-pandai menggunakan trik-trik atau cara supaya dia sendiri yang merasa butuh tanpa sengaja, kemudian membacanya dan paham karenanya. Sebagai misal anda kopy dan cetak (print) topik-topik seperti : Aku Mencintai Wanita Lain ?, Suami Membunuh Istri ?, Suamiku dengan Kemenakanku ?, Artis Suka Cerai ?, Suamiku Telah Berubah ? Kemudian Anda geletakkan begitu saja dirumah dan berharap istri anda membacanya tanpa sengaja, juga ia tidak merasa dipancing untuk membacanya. Dan kemudian suatu saat, ketika sedang nonton tv bersama ketika ada topik yang terkait, coba anda pancing ke suatu masalah yang bisa membawa dan mengarahkan ke penyelesaian masalah yang anda harapkan. Ini semua butuh trik, kejelian dan kepandaian untuk melakukannya. Itulah wanita dan istri kita pada umumnya, agak sulit juga mereka ya ?
Namun di sini bukan masalah sulit atau rumit, akan tetapi bagaimana kita mulai merintis untuk membangun komunikasi. Komunikasi akan arti pentingnya saling mengisi, memberi dan menerima. Memberi dan menerima akan kelebihan dan kekurangan kita masing-masing. Memberi dan menirima akan naik turunnya kehidupan rumah tangga. Dan memberi dan menerima akan adanya kesalahpahaman di antara Anda. Memberi dan menerima agar kebahagian akan terus terjaga dalam rumah tangga kita.
Jadi kita, sebagai lelaki harus pandai-pandai menyikapi mereka (wanita), mahkluk yang lemah tapi emosional. Mahkluk yang mudah menyikapi sesuatu dengan suasna hatinya. Mahkluk yang tak perlu ditanggapi dengan perasaan, namun dengan akal kita. Supaya kita bisa memahaminya dan harus bisa memahaminya. Wanita, istri dan kita sama-sama punya kelebihan dan kekurangan, sama seperti yang lainnya, semuanya. Kita dan mereka sama-sama membutuhkannya, kasih sayang, kebahagian, kejujuran, keteduhan dan kemapanan, walaupun suatu ketika kita harus dan harus mau diujinya. Diujinya denngan persoalan-persoalan sepele, kesalahpahaman dan hal-hal lain mengenai sudut pandang. Sudut pandang yang pasti akan berbenturan dan berbeda. Namun itu semua adalah dinamika. Dinamika kehidupan rumahtangga bagi siapapun yang menjalaninya. Dinamika supaya terjaga komunikasi keduanya. Dinamika akan komunikasi yang terus meningkat kualitasnya. Kualitas menghadapi hidup yang selalu tidak pasti dan tak terduga, sehingga kita selalu bisa berdiri berdua dengan kokohnya !
Kesuksesan adalah Buah dari Perihnya Hidup !
Mas Fadli yang mempunyai harapan dan cita-cita yang mulia.
Mempunyai rumah dan kendaraan sendiri, seperti yang dimiliki dan dipunyai orang lain ternyata ada proses belajar dan butuh waktu yang panjang. Mereka yang mandiri ternyata tidak seperti yang kita bayangkan. Mereka telah berjuang sekian lama untuk memperjuangkan kemandirian itu. Jalan kemandirian seseorang bisa tercipta sejak mereka masih membujang dan sendiri, namun tak sedikit pula yang baru belajar setelah menikah dan berumah tangga.
Bisa saja terciptanya kemandirian seseorang karena keadaan yang memaksanya atau keinginan yang kuat untuk itu, atau sudah sejak lama telah diajarkan oleh orangtuanya, atau ingin mengikuti jejak saudara, tetangga, dan sahabatnya yang telah meraih sukses setelah sekian lama belajar untuk itu. Dari sekian banyak dari mereka yang telah memperjuangkan kemandiriannya, tak sedikit telah bergumul dengan duka dan nestapanya hidup. Mereka harus makan satu kali saja dalam sehari hanya keadaan yang memintanya. Atau puasa jika keadaan memaksa atau mungkin diatur sedemikian rupa demi memperketat pengeluarannya. Atau sebagaimana usaha mereka untuk mampertahankan hidup yang pas-pasan di rantau orang. Dan masih banyak hal yang harus mereka lakukan demi belajar untuk hidup, menuju kemandirian hidup dan banyak menemukan hal-hal yang belum pernah diketemukannya dalam kehidupannya.
Tak mudah memang awalnya mereka yang telah memasuki dunia kemandirian yang nyata. Mereka harus berkutat dalam dunia yang sama sekali baru baginya. Mereka harus belajar langkah demi langkah, kepahitan demi kepahitan, Kegundahan, kegalauan, merasakan perihnya hidup dan semua bahasa hidup yang menyesakkan dada, pelan tapi pasti akan dilaluinya.
Apalagi, suatu ketika mereka melihat orang-orang sukses dan sudah mapan dengan segala fasilitas dan kegermelapan hidupnya, serasa memandang dengan iri dan dengki. Namun mereka juga lupa dan tidak menyadarinya apa yang telah mereka ( orang yang sudah mapan dan sukses itu) lalui dalam hidupnya, sehingga mereka bisa mencapai keberhasilannya. Dengan mudahnyakah mereka meraihnya ? Seakan semudah mengambil air dalam sumurkah ? Tidakkah mereka juga belajar tentang pahit dan getirnya hidup ? Tidakkah mereka merasakan keirian dan kedengkian melihat kemapanan seseorang, ketika mereka masih sama ketika bergelut dalam kehidupan yang nyata itu ?
Memang pada sedikit orang ada sebagian yang sukses karena faktor keturunan dan warisan keluarganya. Namun apakah keluarganya saat yang lalu juga tidak belajar dulu tentang hidup nyata menuju kemandirian dan kesuksesannya ? Sebab umumnya mereka yag sukses kebanyakkan pasti sudah banyak belajar tentang pahit getirnya hidup, sehingga mereka tetap bisa berdiri kokoh dan kuat. Bagai pohon yang besar dengan akarnya yang panjang dan kuat. Akar yang kuat yang pandai memilih tanah yang liat dan padat. Dan ketika hujan badai dan angin kencang menerjangnya tiada mampu merobohkannya, walaupun disekililingnya tak sedikit pohon besar yang terjungkal rata dengan tanah. Kalau toh pohon yang terjungkal itu mampu didirikan kembali, kecil kemungkinan untuk tumbuh dan hidup, karena akan lapuk juga oleh waktu.
Inilah hakekat kemandirian sejati orang yang hidup sukses dan mapan. Hakekat kemandirian seseorang yang sudah merasakan pahit dan getirnya hidup yang sebenarnya. Belajar banyak tentang hidup yang nyata-nyata telah banyak dikelilingi oleh keserakahan, keculasan dan kemunafikan. Belajar hidup untuk terus bisa berdiri dengan kokoh dan kuatnya ketika angin keculasan, badai keserakahan, dan topan kemunafikan datang menerjang. Mereka tetap berdiri dengan kokoh dan kuatnya, karena akar terlanjur mengakar kuat kedalam tanah yang liat dan padat.
Menuju Kemandirian adalah Niat yang Mulia !
Kembali keniat mulia Anda untuk mencoba mandiri adalah pantas diberi apresiasi dan penghargaan yang tinggi. Namun harus disadari jalan menuju ke sana tidak semudah yang akan kita bayangkan. Oleh karena itu jalan menuju ke sana butuh kesiapan mental yang kokoh dan harus tak tergoyahkan. Apalagi anda sudah tak sendiri lagi. Untuk itu membahas masalah ini pada suatu saat yang sedang menyenangkan dan lapang pantas untuk dicoba dan diusahakan dengan istri anda. Akankah istri dan anda sudah siap belajar semua kehidupan yang nyata itu. Mungkinkah kita siap dengan hidup dan makan seadanya. Atau mungkin hidup dengan pas-pasan. Mungkinkah kita siap untuk diuji dengan perasaan rendah diri akibat perubahan yang terjadi. Akankah kita siap suatu ketika hidup yang nyata ternyata serasa menyesakkan dada. Atau siapkah kita meresakan sedikit perihnya hidup yang ada, dan masih banyak ujian dan godaan yang akan terjadi, siapkah ?
Terasa berat memang, tapi semua itu kalau mampu dijalani dengan tekad yang kuat neiscaya akan membawa kenikmatan sendiri, seperti apa yang tak pernah kita duga sebelumnya. Yaitu kenikmatan hidup untuk belajar menggali kehidupan lain yang mungkin belum pernah kita temui dan pelajari. Kenikmatan hidup untuk menikmati hasil jerih payah sendiri. Kenikmatan hidup untuk belajar merendah, dan mendongok ke bawah. Kenikmatan hidup yang sangat berharga dan bermakna, sebagaimana tidak semua orang mampu melakukannya.
Fasilitas memang kadang membuat kita terlena dan mengenakan, namun tak jarang dan tak menutup kemungkinan fasilitas dapat menggelincirkan kita kepada harga diri yang tak bisa diperjuangkan. Fasilitas kadang banyak mengandung jebakan yang menenggelamkan harga diri dan martabat kita, khususnya kita sebagai seorang suami. Seorang suami yang pertama kali akan diperhitungkan tentang keberadaannya dalam rumah tangganya.
Walau begitu, kami kurang setuju, jika anda terus mengembalikan dan meninggalkan fasilitas yang ada. Hal ini menurut kami kurang baik juga. Sebab tidak ada salahnya menjadikan fasilitas digunakan sebagai alat dan sarana menuju kemandirian yang nyata. Tidak ada salahnya menjadikan fasilitas seakan menjadi hak anak anda untuk menikmatinya, dan sebagainya dan sebagainya. Yang penting bukan untuk anda. Sebab dikhawatirkan itu akan mengganggu proses jalan menuju kemandirian anda sendiri. Jangan sampai anda terlena dan takut kehilangan karenanya. Dan percayalah waktu dan jalan menuju kemandirian itu secara tak langsung akan menunutut hidup hemat, penuh kualitas dan makna.
Akhirnya kembali kepada anda untuk sekiranya dapat menguatkan tekad yang membara, bukan hanya niat yang hanya cukup berada diangan-angan belaka. Karena keputusan untuk melakukan dengan tekad yang kuat tersebut akan mempengaruhi rentan waktu yang harus anda tempuh untuk berjalan dijalan kemandirian dan kemapanan. Jalan kemandirian dan kemapanan yang tentu saja penuh duka, nestapa, kelokan, godaan dan ujian yang tak mudah dilaluinya, tanpa tekad yang kuat dan membara. Namun jika anda mampu menikmatinya, maka anda bisa memahami dan mengerti siapakah pohon besar yang akarnya kuat mennghujam ketanah liat dan padat itu.
Demikian sebaliknya, semakin anda menunda dan menunda, maka serasa jalan kemandirian masih nun jauh di sana. Semakin lama semakin menunda, saya semakin khawatir, anda akan tumbuh menjadi pohon yang nampak kuat namun berdiri di atas tanah yang lunak dan lemah. Sehingga kami sangat khawatir, jika ternyata badai itu benar-benar datang menerjang, kemudian membuat anda roboh karena tidak siap menerimanya akibat akar telalu lemah mencengkeram tanah yang terlalu lunak.
Dan kami juga khawatir, sudah sekian lama anda baru memulainya ( mau tidak mau ) untuk menuju jalan kemandirian yang sesungguhnya. Akan tetapi anda sudah banyak kehilangan waktu yang serasa tidak dirasakannya. Atau malah mungkin jika anda sudah memulainya sejak awal lusa, tidak menutup kemungkinan anda sudah berdiri dengan kokohnya katika badai itu itu ternyata datang menerjang dengan kuatnya.
Mas Fadli yang bijak dan mulia, mulai kapan lagi kalau tidak dpersiapkan mulai sekarang, walau mungkin jalan berkelok dan menurun siap menghadang. Namun ingatlah bagaimana rasanya kalau anda sudah mampu mencapai tujuan. Betapa kelegaan, kebanggaan dan kebahagian seakan datang tak terkira. Tak terkira telah datang menyertai hidup anda selanjutnya.
Selamat berjuang Mas Fadli !
|