|
Kepedihan adalah jalan Menuju Kemuliaan !
Jofia, Mahasiswa, 18 thn,
Mala Sejak kecil aku hidup bersama nenek dan keluargaku yang lain. Aku
tinggal di Bandung, sedang ibuku di Jatim tepatnya dikota malang. Setelah
aku SMA, aku diminta ortuku untuk tinggal bersama mereka. Aku sempat
menolak karena aku pernah tinggal bersama mereka.Ceritanya dulu aku diminta
Ucapan yang beliau lontarkan kepadaku selalu membuatku sakit hati dan menangis.Ayahku tidak pernah tau bila ibu selalu bersikap kasar kepadaku. Akhirnya ketika kenaikan kelas 2 SMA,aku ikut bersama ortuku karena nenekku sudah tidak mampu membiayaiku karena kakek sudah tiada. Apa yang aku rasakan dulu,aku rasakan lagi sekarang. Baru beberapa hari aku disini,aku sudah sering mengeluarkan airmata.Ibuku kerja disalah satu perusahaan rokok terkenal di malang, otomatis pulang sore. Jika aku tidak masak sekali aja beliau selalu menuduhku yang macam-macam. Katanya aku itu malas,anak tidak tau balas budi pokoknya macam-macam. Beliau tidak berani ngomong langsung, dia selalu ngomongin aku sama saudara-saudaranya menjelek-jelekkan aku.Aku selalu berusaha untuk tidak membuat kesalahan sekecil apapun,tapi kenyataannya selalu ada saja yang salah.Aku 4 bersaudara, aku cewek sendiri adeku 2 dan kakakku laki2. Sepertinya segala sesuatu itu harus aku yang mengerjakan. Sampai2 aku pernah kena tegur guruku karena aku selalu lupa dengan tugas yang beliau berikan. Padahal aku disekolah lumayan berbakat. Kehidupan seperti ini sampai sekarang aku rasakan sampai2 aku tidak pernah bisa keluar bersama teman2ku. Ibuku sangat menyayangi adekku yang ke 1 beliau selalu mendahulukan
kemauannya dari pada anak2nya yang lain, sedangkan aku selalu terbelakang.
Apakah salah jika seorang anak ingin mendapatkan kasih sayang dari
ibunya setelah sekian lama terpisah. Padahal dia tidak pernah mengurusi aku
sejak kecil, seharusnya dia lebih manyayangi aku setelah aku tinggal
bersamanya bukannya dijadikan pembantu seperti ini. Mungkin aku terlalu
kasar bialng seperti itu, tapi semua ini kenyataan. Biasanya kalo
bersih2 rumah pas hari libur orang tua yang melakukan dan sang anak hanya Sekarang sku sudah hampir 4 th hidup bersama ortuku dan yang aku rasakan
hanya kekecewaan dan penderitaan. Apalagi setelah aku kuliah aku tidak
pernah mendapatkan uang saku dari ibuku, aku hanya mengandalkan
pemberian dari ayahku dan itupun tidak seberapa dibanding dengan kebutuhanku kuliah. Apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi semua ini,dan sebentar lagi aku lulus kuliahaku pingin banget kerja yang jauh dari kota malang,kota yang membuatku selalu mendapatkan kemalangan .Aku minta bantuannya, sebelumnya aku ucapkan terima kasih aku sangat mengharap bentuan dari Mas Idan. MasIdan.
Hidup ini Hanya Ada Dua Hal untuk di-Jalaninya.
Dik Jofia yang lemah lembut budi pekertinya, walau merasa bersikap kasar pada ibunya, Dunia ini seakan banyak dengan simbol-simbol yang kurang bisa dimengerti. Kita lupa dan tak mengerti mengapa kita harus merasakan hidup yang pedih dan perih, Kenapa kita harus merasakan sakit dan pilu. Mengapa kita harus belajar untuk hidup yang serasa penuh dengan sedih dan tangis. Mengapa dan mengapa ? Simbol-simbol hidup itu harus ada, ya Sang Pencipta Sekalian Alam ? Mengapa mereka Kau beri Bencana ? Mengapa mereka dengan mudahnya Kau akhiri hidupnya ? Mengapa dan mengapa ya Tuhan Sang Penguasa Alam ?
Adik telah lupa, suatu ketika bisa merasakan senang dan suka ? Adik telah lupa saat bisa mengatakan atau merasakan bangga suatu ketika. Adik telah lupa bagaimana bisa merasakan bahagia, suka-cita dan hari-hari yang menyenangkan suatu ketika. Adik telah lupa bagaimana bisa meresakan itu semua ?
Mungkinkah kita bisa merasakan bagaimana rasanya pahit itu sebelum pernah merasakan rasa manis. Bagaimana anda bisa mengerti warna hitam sebelum tahu seperti apa yang namanya warna putih. Bagaimana mungkin anda tahu gelapnya malam kalau anda tidak pernah tahu terangnya siang. Bagaimana mungkin ?
Hidup adalah dua hal yang harus dilaluinya. Dua hal yang tersambung menjadi jalan. Jalan yang harus kita pilih salah satunya. Tidaklah mungkin bisa diambilnya secara bersamaan. Jalan yang mana dulu lebih dominan yang menjadi pilihan. Setelah kita merasakan jalan pilihan yang dominan itu, barulah kita bisa menapaki jalan lain yang mungkin membawanya ke suatu tujuan sebagai hasil jalan pilihan yang telah lalu.
Maka barang siapa memilih jalan yang penuh kesenangan, hura-hura, ongkang-ongkang, santai-santai dan hidup kurang makna (hanya mencari enaknya sendiri) yang banyak lebih dominan, maka mereka itu bisa dipastikan di masa-masa yang akan datang, akan segera menapaki jalan yang penuh kesengsaraan, sangat lemah dalam persaingan hidupnya, sangat kering jiwanya dan gersang nuraninya, sebagai hasil pilihan jalan yang telah dipilh awalnya. Saat itulah mereka baru bisa menyesali sikap pilihan hidupnya yang banyak kurang bermakna. Namun sayang penyesalan itu tiada berguna karena waktu terus kedepan, mana mungkin bisa dikembalikan.
Begitu juga sebaliknya, jika kita harus memilih jalan yang penuh kepedihan, keperihan, kekecewaan, penuh tangisan dan semua bentuk yang terkandung dalam sebuah makna dalam kehidupan, yang lebih dominan. Maka kita hanya akan menunggu waktu untuk sampai ke jalan yang penuh wangi-wangian seyuman, bunga-bunga kebahagian, kebanggaan, keceriaan dan terengkuhnya semua arti kehidupan yang sebenarnya. Maka nikmatilah dan renungkanlah ! Janganlah kau hindari demi untuk memilih jalan lain, dimana anda pasti akan mendapatkan jalan sebagai jawaban atas pilihan yang akan diambilnya.
Hidup adalah Hikmah dan Pelajaran.
Dik Jofia bukankah hidup itu hakekatnya masalah, hikmah dan pelajaran. Makanya kita menjadi pandai karena kita sekolah ? Kita jadi kaya karena kita bekerja dan berusaha untuk kaya ? Kita bisa pintar melakukan sesuatu karena kita selalu belajar untuk itu ? Lalu siapa bilang belajar untuk pandai itu gampang ? Siapa bilang bekerja itu enak ? Lalu siapa bilang belajar sesuatu yang sulit itu mudah ?
Siapa bilang ketika belajar, bakerja dan sekolah tidak akan menghadapi masalah ? Masalah adalah hikmah. Hikmah adalah pelajaran. Pelajaran menghadapi masalah akan menentukan kualitas dan kapasitas seseorang. Kualitas dan kapasitas seseorang inilah yang akan menentukan berkembang-tidaknya hidup seseorang. Kapasitas dan kualitas seseorang juga sangat ditentukan akan jalan yang telah dipilihnya. Lalu siapa yang akan bilang bahwa masalah bukanlah hakekat sebuah kesulitan. Lalu mengapa mereka mampu melewatinya ? dan mengapa mereka bisa melakukannya ? Percayalah dik, kalau menurut kami, keadaan anda justru akan sangat menguntungkan masa depan kapasitas dan kualitas kepribadian adik, untuk lebih bisa memahami hidup yang penuh jebakan ini.
Anda boleh percaya, boleh tidak ! Entahlah, MasIdan sendiri dalam menjalani hidup ini, lebih suka mendapat kepedihan, disepelekan orang, dicemooh orang, dianggap kecil orang, dianggap tidak bisa berbuat apa-apa dan lain sebagainya. Daripada MasIdan sering disanjung orang, dianggap hebat orang, dihormati orang dan masih banyak hal yang seharusnya orang akan bangga karenanya. Namun justru mas tidak. Mas selalu menghindar dari semua itu, selalu menganggap bukan apa-apa, selalu menatap ke bawah dan justru khawatir serta waspada.
Lho kenapa Mas ? Mas merasakan betul dik. Ternyata dibalik kepedihan hidup manusia ternyata menyimpan kekuatan yang sangat luar biasa di dalamnya. Sulit rasanya menjelaskan ini semua ! Anehnya Mas malah menikmati keadaan ini. Mas bisa melihat dengan jelas apa yang akan terjadi. Mas bisa melihat dengan sangat gamblang sekali !
Mas bisa melihat sangat jelas orang yang congkak dan sombong itu, akan sangat mudah bergelimpangan hanya karena menghadapi secuil masalah yang sangat sepele. Mas bisa melihat dengan sangat jelas sekali, orang yang suka membuang waktu dengan ongkang-ongkan tanpa arti, atau orang yang cenderung pingin enaknya sendiri, orang yang tak tahu diri dan siapa saja yang tak mau bersusah diri itu, hanya akan mengalami kekeroposan diri, lapuknya hati, dan rapuhnya nurani. Mereka hanya akan menghadapi hidup dengan penuh kesesakan di hati dan rasa sakit pada jiwa dan nurani.
Mereka hanya akan menjadi kayu yang sangat mudah rapuh. Kayu yang sangat murah sekali harganya. Kayu yang sama sekali tidak mempunyai nilai dan kualitas sama sekali. Kayu yang mudah sekali keropos hanya karena terkena embun pagi. Kayu yang sangat mudah sekali lapuk hanya karena terkena panasnya sinar pagi. Kayu yang hanya dipakai satu kali saja, kemudian dibuangnya tanpa arti. Kayu yang kemudian dipungut orang hanya untuk menanak nasi. Betapa menyesalnya kalau hanya menjadi kayu pembakar api !
Berbeda dengan kayu jati, belum tumbuh besar saja, banyak orang mau membeli. Kayu yang kuat dan kokoh oleh panasnya terik matahari. Kayu yang tangguh oleh siraman banjir sekalipun. Digunakanlah kayu itu hanya untuk hal-hal yang sangat berarti; pintu, kusen, tempat tidur, sofa dan almari. Semua yang terbuat dari kayu jati menjadi tak ternilai harganya. Menjadi potongan-potongan kecil saja orang tak segan-segan untuk membelinya. Dibelinya untuk membuat barang-barang seni. Barang kecil yang terkesan mungil itupun menjadi sangat berharga, hanya karena terbuat dari kayu jati. Betapa bangganya orang yang bisa menjadi kayu jati, karena jelas bisa dipastikan hidupnya akan lebih berarti !
Untuk itulah Dik, jadilah kayu jati. Walau mungkin saat ini adik baru menjadi bibit kayu jati. Kayu jati yang hidup di tanah yang gersang dan panasnya sampai menusuk di hati. Kayu jati yang hidup di gunung yang tinggi. Kayu jati yang serasa hidup sendiri, jauh dari keramaian, lalu lalang jalan dan sungai. Kayu jati yang pandai menyesuaikan diri dan menikmati teriknya matahari, dengan merontokkan daun-daun, supaya tetap hidup kokoh dan tegar mandiri.
Percayalah dik ! anda tinggal selangkah lagi untuk bisa menjadi kayu jati. Kayu jati yang akan menjadi perhatian dan kebanggaan banyak orang yang punya hati.
Janganlah ! janganlah ! mau menjadi kayu penanak nasi ! Kayu yang mudah keropos dan lapuk. Kayu yang maunya hidup di tempat yang basah oleh banyaknya air. Kayu yang hanya mau hidup di lembah yang tak jauh dari air. Bagai kayu yang tumbuh mencari enaknya sendiri. batang kayu yang maunya tumbuh besar hanya karena dekat air atau hanya pada tanah yang subur saja. Namun apa yang terjadi, seakan tak ada orang yang tertarik untuk memiliki. Seakan tak ada seorangpun yang mau membelinya. Kecuali hanya orang-orang yang membutuhkannya untuk membakarnya. Membakarnya hanya untuk menanak sesuap nasi. Betapa kurang berharganya, betapa kecil nilainya. Seakan kayu itu sangat kurang memiliki arti. Beruntunglah ia hanya sebatang kayu. Sebatang kayu yang tak memiliki hati dan nurani. Sehingga keberadaannya yang kurang berarti bisa dimaklumi.
Namun bagaimana jika pohon kayu itu punya jiwa dan nurani ? Apa yang terjadi dengan perasaan hatinya, masa depannya dan kehidupannya ? Akankah banyak orang akan memperhatikannya dan ingin memilkinya ? Siapa juga yang nantinya akan bangga kepadanya ? Dan apa yang akan diharapkannya darinya kecuali untuk hal-hal yang tak berguna ? Sungguh Kasihan Mereka !
Percayalah dik ! Anda telah merasakan kepedihan, oleh karena itu tinggal selangkah lagi anda akan merasakan sebuah makna dari sebuah kebahagiaan yang sebenarnya dan nyata. Anda serasa telah menjalani perihnya hidup, namun sebenarnya tinggal selangkah lagi akan menemukan makna dari sebuah kelegaan hati yang tiada terkira. Anda serasa melangkah dengan penuh tangisan, namun sebenarnya tinggal selangkah lagi anda akan mengetahui sebuah makna dari seberkas senyuman yang nyata hingga merasuki jiwa.
Maka dari itu, berusahalah untuk menikmatilah kepedihanmu sebagaimana selangkah lagi kamu akan menemukan sebuah makna tentang kehebatan perasaan bahagia itu. Maka nikmatilah keperihanmu, sebagaimana selangkah lagi di depan anda terbentang lautan yang penuh dengan kelegaan hati yang tiada tara. Nikmatilah tangismu. supaya kamu bisa merasakan arti sebuah senyum yang sebenarnya.
Maka nikmatilah ! Jangan mau menghindar karenanya. Karena hanya tinggal selangkah lagi anda akan memetik buahnya. Jangan sekali-kali kau biarkan orang memetik buahnya. Buah dari apa yang telah kami jalani dengan kepedihan. Janganlah kau berikan buah itu kepada orang yang tak berhak memetiknya. Karena anda akan rugi besar karenanya !
Nikmatilah Kepedihan dengan Prasangka yang Baik.
Suatu ketika kita pernah bersungut-sungut ketika diberi tugas membuat makalah suatu materi kuliah oleh dosen mata kuliah tersebut. Kadang-kadang kita dongkol karenanya, mengingat pekerjaan lain yang juga menumpuk banyak. Kita lalu berprasangka buruk, dengan hati yang dongkol, marah, dan kecewa karenanya. Sehingga kita dengan hati yang keruh dengan terpaksa mengerjakan tugas yang diberikannya, di tengah-tengah pekerjaan yang menumpuk lainnya. Pasti saat itu kita mengerjakannya dengan muka yang masam, kepala serasa tertekan dan jiwa yang berang. Tentu saja keadaan ini menamabah beban badan dan jiwa semakin tertekan, seakan hari itu sebagai hari yang menjegkelkan.
Berbeda kalau kita, mengerjakannya dengan apa adanya, dengan iklas menerimanya karena ini memang resiko sebagai mahasiswa yang memang berat dijinjingnya. Namun pekerjaan yang berat serasa menjadi ringan kalau ada kelegaan dalam jiwa. Apalagi kita juga berbaik sangka dengannya, beliau memang tak tahu pekerjaan yang lainnya, beliau tentu saja punya maksud yang baik untuk mahasiswanya, siapa tahu demi kualitas anda atau kebaikkan yang lainnya, yang belum bisa kita cerna. Yang jelas kita yakini saja, itu demi baiknya kita, bukan dosen kita yang mendapatkannya. Sehingga pekerjaan berat ditengah banyaknya pekerjaan yang lainnya serasa ringan karenanya. Apalagi kalau kita mengerjakan dengan menikmatinya, karena itu semua demi kebaikan kita juga. Serasa pekerjaan berat itu menjadi ringan karenanya. Sehingga tidak terganggu oleh jiwa yang menekannya, Jiwa yang tertekan akibat kita buat sendiri, karena kita telah berburuk sangka terhadapnya.
Tentu saja akan berbeda hasilnya jika dikerjakan diantara baik sangka dengan buruk sangka. Cara menjalaninya saja juga akan berbeda bebannya. Hayo pilih yang mana ? MasIdan tidak bisa membanyangkan kalau hari-hari anda, adik ciptakan sendiri dengan penuh prasangka (buruk) betapa semakin tertekannya anda, betapa sangat beratnya hidup yang adik jalankan. Lalu siapakah yang menciptakannya itu semua ? Dosen andakah ? Adik pasti sangat keliru.
Percayalah dik, Marilah kita mulai babak baru. Babak baru supaya kita bisa menikmati kepedihan, tangisan dan kekecewaan ini. Supaya hari-hari serasa ringan untuk dijalankan. Supaya kita bisa segera memetik buahnya, buah yang memang menjadi hak kita. Bukan malah diambil oleh orang-orang yang tak berhak mengambilnya.
Berprasangkalah yang baik kepada Ibunda anda, walau pedih dirasa supaya semua menjadi ringan saja. Saya tak bisa membayangkan apa jadinya anda, ketika kakek anda meninggal, masa depan anda, hidup anda dan semuanya. Beruntung anda masih punya orang tua, walau anda masih menyimpan kecewa terhadapnya. Tahukah anda ? mereka yang tak punya orang tua hidupnya terlunta-lunta. Beruntunglah anda ternyata masih ada orang tua yang masih mau membiayainya, walau masih perih dirasa.
Ayolah dik, Berbaiksangkalah kepada ibunda anda yang telah melahirkan anda, dengan segala kekurangannya. Berbaiksangkalah atas sikapnya yang membuat anda sebagai pembantunya. Berprasangkalah bahwa tindakan-tidakan ibunda hanya demi kebaikan anda. Siapa tahu, anda tidak tahu, dibalik sikap keras ibunda anda menyimpan rencana demi kebaikan anda. Rencana yang akan menjadikan anda sebagai kebanggaan keluarga suatu ketika. Ayolah dik berprasangkalah yang baik terhadapnya. Nikmatilah kepedihan anda atas semua, supaya selangkah lagi anda bisa memetik buahnya. Ayolah nikmati kepedihanmu dengan kelapangan dada, niscaya suatu ketika adik menjadi manusia yang sempurna. Ayolah dik ! jangan ditunda-tunda !
Boleh saja adik sering menangis hanya untuk bisa menghadapi itu semua, namun anda harus tetap bisa menikmatinya, sepaya ringan dirasa, supaya menjadi tak ternilai harganya. Sebagaimana tumbuhnya kayu jati di tengah gunung yang panas lagi gersang. Dan ketika anda sudah tumbuh besar maka semuanya akan tertuju pada anda. Ayolah dik, jangan ditunda !
MasIdan tak bisa membayangkan dan mungkin ikut senang bukan kepalang, jika adik yang telah memendam kepedihan bisa mengatakan kepada ibundanya permintaan maafnya atas kelakuan-kelakuan yang lalu (misalnya membangkang mengejakan sesuatu). Dan mampu mengatakan bahwa semua yang ibunda lakukan demi kebaikkannya, walau dengan hati yang gersang. Tentu saja kalau adik mampu melakkukan itu, MasIdan akan sangat bahagia melihatnya nun jauh disana. Dan apalagi bisa berjanji untuk melakukan semampunya apa yang ibunda inginkan, dan memintanya untuk mengingatkannya jika adik lalai mengerjakannya. Sungguh-sungguh hebat adik dimata masIdan, bagai kakak telah melihat kayu jati itu telah tumbuh mekar, dan kakak yakin dengan pasti kayu jati itu (yang sedang mekar) akan menjadi perhatian semua orang. Tapi ini kalau adik mampu melakukannya, karena ini bisa ditunda menunggu kesiapan adik. Namun yang jelas MasIdan sangat mengharapkannya suatu ketika dilakukannya.
Demikian juga dengan kakak dan adik anda, berbuat baiklah kepadanya, walau ada rasa dengki padanya. Ayolah dik, anda pasti bisa ! sebagaimana kakak telah berbuat baik kepada anda. Tak ada yang kami harapkan dari adik sesuatu atas kebaikkan kakak. Cuman MasIdan menjadi lega dan bahagia jika adik dapat melakukannya dan menjadi bahagia karenanya, bagai kayu jati yang sudah tumbuh besar. Dan Kakak berjanji akan memeprioritaskan adik, jika suatu ketika adik ingin bertanya apa saja yang anda suka ! Selamat berjuang Dik Jofia ! Salam dari MasIdan !
|