*** Ber-Amal ! Sekaligus Mendapat Jasa ! ***

 *** Waspadai Sumber Keonaran & Kericuhan di Lingkungan Anda ! ***

 

 

Kasus Mulyana :

Contoh dari Hancurnya Kredibilitas Diri !

 

Ansor, 20 thn, Guru Swata, Surabaya. 5 Mei 2005.

 

Assalam. bang idan, saya sekarang lagi di lilit musibah yaitu krisis kredibilitas. itu terjadi karen dampak ulah dari apa yang saya lakukan selama ini. jadi pertanyaan saya adalah bagaimana caranya untuk mengangkat
kredibilitas saya kembali? Kedua, bagaimana cara menjaga kredibilitas seseorang? Wassalam.

 

 

MasIdan.

 

Semua karena kebodohan diri kita !

 

Penyebab ambruknya kridibilitas itu hanya ada tiga hal, yaitu lupa diri, tak tahu diri, dan ketidakwaspadaan diri. Dan penyebab utama yang terangkum dalam tiga hal itu adalah kebodohan atas dirinya sendiri. Bagaimana tidak bodoh diri, karena mangatakan bisa, namun sebenarnya jelas-jelas tidak bisa. Bagaimana tidak bodoh diri, mengatakan punya, padahal tidak mempunyai sedikitpun. Bagaimana tidak bodoh diri, mengatakan ada, namun sebenarnya tidak ada.Bagaimana tidak bodoh diri, mengatakan benar, namun kenyataannya tidak benar sedikitpun.

 

Kami sangat heran sekali dengan para pelaku pembodohan diri ini. Bagaimana tidak ? Sudah sangat jelas terlihat akan kebodohan dirinya. Sudah amat sangat tampak dan amat sangat nyata terlihat oleh mata telanjang kita, kebodohan yang ada. Namun tega-teganya mereka berbuat terhadap dirinya, sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Bagaiman tidak melukai dirinya, kalau dengan congkakanya menyepelekan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka bisa. Bagaiman tidak menyakiti dirinya sendiri dengan bodohnya, menganggap sesuatu yang sebenarnya sulit dengan remehnya. Bagaimana tidak ? Dengan sadarnya, dengan sengajanya, meremukkan jiwanya ini dengan kebodohannya. Dengan bodohnya merusak jiwa ini dengan nyata, hanya karena merasa menikmati kebodohan sementara yang sedang dilakukannya.

 

Kebodohan sementara dengan lagak yang sangat berbeda dengan apa yang mereka punya. Bagaiman kita tidak kasihan dengan mereka, kalau sudah lama berlagak di depan lingkungannya, entah linkungan kampungnya, entah lingkungan kerjanya, ataupun lingkungan sekolahnya, ataupun di hadapan teman-temannya, atau dimanapun juga. Mereka masih bisa-bisanya berlagak, sementara yang lain sudah mengetahuinya. Mengetahuinya sebagai lagak yang berbeda dengan kenyataannnya. Betapa kita tidak kasihan sama mereka, masih tidak menyadarinya, tentang lagaknya yang sudah diketahui semuanya.

 

Bagaimana tidak kasihan sama mereka, masih bisa-bisanya berlagak, masih saja tidak menyadarinya, bahkan merasa menikmatinya semua kebohongan yang ada. Bagaiman kita tidak kasihan sama mereka, jika seakan kita melihat pelawak srimulat sedang membanyol, yang membuat banyak orang tertawa itu. Tertawa akibat tingkah laku, lagak dan banyolannya, yang sudah bisa kita pastikan akan membuat kita tertawa.

 

Namun sayang, sangat berbeda orang yang berlagak itu dengan pelawak srimulat. Walaupun tingkah laku, lagak dan banyolannya, hampir bisa dikatakan sama. Akan tetapi hasilnya sangat jauh berbeda. Berbeda, karena pelawak srimulat justru akan menjadi terkenal dan banyak penggemarnya. Tidak hanya itu, pelawak srimulat itu malah akan menanjak kariernya, oleh sebab banyolan, lagak dan tingkah lakunya, yang bisa membuat banyak orang sangat membutuhkannya.

 

Namun apa yang terjadi dengan pelawak bodoh yang tidak menyadari dirinya itu. Bukannya semakin menanjak kariernya, malah bisa dipastikan dalam waktu dekat akan terpuruk nasibnya. Bukannya malah banyak penggemarnya, tapi malah banyak yang menjauhinya. Bagaimana kita tidak kasihan dengan pelawak bodoh ini, sudah jatuh malah tertimpa tangga. Bagaimana kita tidak kasihan sama mereka, jika banyolan, lagak dan tingkah lakunya menjadikan orang-orang disekelilingnya merasa muak dan tertawa. Namun bisa-bisanya, si dia masih bisa menikmatinya. Menikmatinya akaibat kebodohan diri yang nyata dan akibat ketidaksadarannya dengan itu semua. Kasihan sungguh kasihan mereka !

 

 

Akibat Ketidakwaspadaan dan Lupa Diri !

 

Ketidakwaspadaan diri juga bisa mengancam kehormatan dan harga diri kita. Kehormatan dan harga diri yang ada di dalam kredibilitas kita. Ingat Mulyana W Kesuma (ketua KPU itu), beliau sudah tidak mampu mengendalikan kewaspadaan diri akibat telah terperangkap masuk ke dalam banyak kebobrokan moral yang ada. Siapa yang tidak tahu Mualyana W Kusuma itu, salah satu tokoh reformasi yang merupakan bagian dari keinginan menegakkan keadilan dan tekadnya menghabisi korupsi.

 

Namun apa yang terjadi dengan Mulyana, tertangkap basah melakukan suap-menyuap yang merupakan bagian dari korupsi itu sendiri. Dan Mulyanapun tinggal menunggu keadilan yang dulu ingin ditegakkan itu. Dan Mulyanapun tampaknya tinggal menunggu waktu mempertanggungjawabkan apa yang telah menjadi jebakan atas dirinya sendiri. Suatu jebakan diri akaibat ketidakwaspadaan diri mengontrol komunitas anggotanya (anggota KPU) yang memang sudah bobrok itu.

 

Ya , karena kemampuan menejemen yang lemah akibat sebuah pekerjaan yang sebenarnya bukan bagiannya, sebagai seorang ketua KPU. Atau ketidakwaspadaan diri akbat terlalu banyak dikelilingi banyak begundal-begundal nurani. Yang membuat Mulyana tidak bisa menahan arus kehidupan itu. Dan dia, dengan ketidak waspadaan diri telah terbawa arus itu. Dan kemudian Mulayana hanya akan bisa menyesalinya. Menyesalinya sesuatu yang sudah tak berguna untuk disesalinya. Kasihan sungguh kasihan, harus menjadi korban atas keadilan dan idialisme yang dulu sangat ingin sekali ditegakkannya. Yang telah menjadi korban dari arus yang penuh kebusukkan itu. Semoga Mulyana tabah menghadapi nasib akan keadilan yang dulu pernah diucapkannya. Ambruklah kredibilitas Mulyana ! Yang sudah sekian lama ia bangun dengan tidak mudahnya. Sekian lama waktu yang ada, dan jatuh hanya dengan satu kali gerakan yang telah menjebak dirinya. Jebakan kehidupan yang telah dipasang oleh para begundal-begundal nurani di sekitarnya (yang ada di KPU, yang membuat Mulyana melakukan itu)!

 

Kemudian lupa diri dan rasa tak tahu diri yang sering diperankan oleh pelaku-pelaku korupsi. Bagaimana tidak, kalau mereka ingin cepat kaya dengan gaji yang ada. Lupa diri akan hidup apa yang di punya. Namun dasar manusia, karena sudah lupa dirinya, maka yang ada hanya sifat serakahnya telah menguasai dirinya. Sifat serakahnya yang sudah tidak bisa membedakan mana hak yang ia punya dan mana yang ia tidak berhak untuk dimilikinya. Sudah lupa diri, malah dihadapkan oleh banyaknya jiwa busuk yang bergentayangan di sekitarnya. Jiwa-jiwa busuk yang ingin mudahnya saja mendapat sesuatu yang diinginkannya. Jiwa-jiwa busuk yang telah menebarkan pesona uang sebagai daya tariknya. Sebagai daya tarik untuk melakukan apa saja, apa saja supaya semua menjadi mudah dan ingin enaknya saja.

 

Jadilah jiwa-jiwa busuk itu telah menjebaknya dalam arus yang telah dibuatnya. Oleh karena itu, pelaku-pelaku koruptor tidak semua dilakukan dengan sadar. Namun akibat pesona yang disebarkan oleh para pemilik jiwa busuk, dengan mulut busuknya, dengan janji-janji busuknya, dan logika-logika busuknya. Sehingga mereka terlena dengan apa yang telah menjadi pesonanya. Maka arus kebusukkanpun telah menyeretnya. Menyeretnya untuk menunggu waktu menghempaskannya ke karang besar yang akan menghadangnya. Kemudian mereka baru sadar ketika badan jiwanya sudah remuk terhantam batu karang besar tersebut. Baru sadar bahwa mereka sudah terperosok di dalam arus kehidupan yang penuh kebusukan itu. Ya , saat itulah kehormatannya akan terhempas tiada terkira. Kehormatan yang seharusnya berada dalam kredibilitasnya. Kemudian sudah tidak ada gunanya lagi untuk menyesali kredibilitas yang harus ia terima sekarang.

 

 

Bersegeralah minta Maaf dan Merubah Diri !

 

Kalau sudah begini tidak ada jalan lain, untuk benar-benar mengambil pelajarannya. Sebuah pelajaran yang berharga supaya kita tidak mengulanginya. Sebuah pelajaran yang membawa hikmah yang tak ternilai harganya. Sebuah pelajaran untuk segera menyadarinya. Menyadarinya yang mungkin kita, tanpa terasa, telah menjadi pelawak yang sangat memalukan itu. Pelawak kehidupan yang telah membuat kredibilitas kita semakin terpuruk saja.

 

Untuk segera dengan cepat membangun kredibilitas kita, yang sudah berserakan di atas bak sampah itu. Tidak ada jalan lain untuk menjadi seorang satria dan harus memiliki jiwa besar, yang harus segera dibangun pada diri kita. Bersikap satria dan berjiwa besar, untuk mmengakuinya telah menjadi pelawak murahan yang sama sekali tak bermakna itu. Untuk mengakui kesalahannya menjadi pelawak bodoh dan tak tahu diri itu. Dan bersegera meminta maaf kepada siapapun juga yang selama ini telah menyaksikan banyolan, tingkah laku dan lagaknya sebagai pelawak yang tak tahu diri itu. Dan berjanji pada diri kita untuk tidak mengulangi, atau sudah tobat untuk menjadi pelawak bodoh dan tak tahu diri itu.

 

Janganlah mau menjadi seorang pengecut untuk tidak mau mengakui kesalahan selama ini. Karena yakinlah, tidak akan ada yang berkurang pada diri anda jika anda bersikap satria. Sebelum keadaan menjadi membatu dan tak terkendali, hanya karena anda menunda-nunda mengakui kesalahan yang ada. Atau malah anda tak mau mengakuinya dan malah memilih menjadi pengecut belaka. Dan kalau begini, kami akan menjamin keadaan anda semakin parah dari sebelumnya. Dan kalau sudah begitu tidak ada yang akan dirugikan dan akan semakin menjadikan anda pelawak murahan, bodoh dan tak tahu diri. Dan tidak ada yang menanggungnya kecualai anda sendiri.

 

Minta maaflah kepada teman-teman anda, akan kesalahannya selama ini. Akuilah bahwa anda tidak menyadarinya jika keadaan manjadi begitu. Dan berjanjilah untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Dan seandainya, karena anda adalah manusia yang sangat lemah, katakanlah kepada mereka, jika ada tanda-tanda anda akan mengulangi perbuatan itu lagi, memohonlah kepada mereka untuk mengingatkan anda supaya tidak terperosok untuk kedua kalinya. Dan akauilah kemungkinan itu masih sangat terbuka. Maka katakanlah kepada mereka semua untuk jangan sungkan-sungkan mengingatkannya. Sebab perlu kami tegaskan di sini, suatu ketika anda akan lupa diri lagi (sebab banyak faktor yang bisa mengakibatkannya), ketika sudah diingatkan tentang keadaan itu. Namun karena keadaan, seakan ada dorongan kuat untuk meremehkannya, dan mengulanginya lagi. Maka jangan sungkan-sungkan meminta mereka untuk mengingatkannya dengan keras, supaya anda menyadari kembali. Sebab kalau ini terjadi lagi, dan anda lupa diri lagi, maka hanya tinggal menunggu waktu untuk mengulangi kejadian ini lagi. Terus dan terus tiada henti, jika anda tidak hati-hati.

 

 

Maka Janganlah mau jadi Pengecut, kalau mau Masalah cepat Terhenti !

Karena di dunia ini, seakan tidak ada Tempat bagi para Pengecut !

Selamat memperjuangkannya !

Ingat jangan sampai ketinggalan satu topikpun, karena disana banyak rahasia hidup yang telah banyak dilupakan oleh sebagian besar orang. Dijamin ! Kalau anda bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari semua topik yang ada, Niscaya serasa jiwa anda baru bangun dari tidur yang terlalu lama !. Terimakasih !