Hidup Haruslah sebuah Pilihan !

 

 

Sony, 27 thn, Swasta, Semarang. 21 Mei 2005.

 

Saya adalah seorang yang suka teradap tantangan Saya mencintai seseorang akan tetapi seseorang itu juga disukai sama orang lain, apalagi si dianya itu malah bingung harus pilih yang mana antara aku ma sainganku itu, keinginannya sdia ngga ingin menyakiti kedua2nya padahal itu malah menyakiti keduanya disaat dia jalan ma aku co itu khan sakit hati dan disaat juga dia jalan ma co itu aku khan juga sakit hati... trus apa maksudnya ? dia seperti itu, tolong dibales karena aku sangat membutuhkan pertolongan itu terimakasih sebelum dan sesudahnya, Salam !

 

 

MasIdan.

 

Hidup adalah Sebuah Pilihan !

 

Kita seakan sudah lupa, kalau kita sudah sejak dalam kandungan telah diajarkan tentang keharusan menerima dan menghadapi sebuah pilihan dalam hidup kita. Kita lupa, ketika kita masih dalam kandungan ibunda kita, kita harus sudah menerima pilihan untuk menjadi calon anak dari ibu kita bukan ibu yang lainnya. Dan ketika kita lahirpun kita harus menerima sebuah pilihan untuk lahir di tempat tertentu, pada waktu tertentu, dan pada tahun tertentu. Dan selanjutnya, kitapun juga harus menerima pilihan, bahwa kita harus menjadi seorang anak dengan orang tua yang kaya ataupun miskin. Kitapun juga ternyata harus menerima sebuah pilihan, bahwa kita harus dilahirkan sebagai lelaki ataupun perempuan.

 

Kita sudah dan akan terus diajarkan dan dihadapkan pada sebuah pilihan. Diajarkan sejak kita masih berada dalam kandungan sampai kita menjadi seorang remaja. Dan kemudian selanjutnya, selama hidup kita akan terus dan terus dihadapkan pada sebuah pilihan dalam hidup kita selanjutnya. Sebab hidup memang sebuah pilihan.

 

Tuhan memang Maha Bijaksana, sebagaimana keharusan manusia belajar dan menentukan sebuah pilihan. Sebab keharusan menentukan sebuah pilihan adalah merupakan bentuk dan isi dari apa yang akan didapatkan dari masa depan hidup manusia yang bersangkutan. Sebuah pilihan ibarat jalan yang banyak cabang dan arahnya untuk bisa dilewatinya untuk mencapai sebuah tujuan. Banyaknya cabang dan arah suatu jalan adalah jalan di mana akan membentuk dan menentukan bangunan pada jiwa diri manusia itu.

 

Pilihan sebenarnya merupakan sebuah makna dari bentuk jiwa yang akan ada dan diterima pada diri siapa saja. Sebuah pilihan pada akhirnya merupakan penentuan hidup seseorang selanjutnya. Sebuah pilihan ternyata mempunyai bobot yang berada di dalamnya. Untuk itu sebuah pilihan yang dilandasi dengan penentuan berdasarkan kemudahan-kemudahan yang terdapat di dalamnya, akan menentukan kadar dan bobot yang akan diterimanya. Sedemikian rupa, sebagaimana rumus alam yang ada, maka semakin menentukan kemudahan dan kemudahan pada sebuah pilihan, tentu saja mereka akan menerimanya dengan kadar dan bobot yang semakin ringan juga. Demikian juga, semakin sulit dan berat sebuah pilihan, maka mereka akan menerima bobot dan kadar yang semakin berbobot pula.

 

Untuk itu, bangunan sebuah jiwa akan semakin berkualitas dan berbobot jika jiwa tersebut semakin mampu menetapkan sebuah kesulitan dalam suatu pilihan. Sebab jiwa dan kepribadian yang lemah tentu saja akan selalu mundur atau mungkin akan berdiam diri jika harus di hadapkan pada pilihan yang sulit. Sehingga yang terjadi adalah seringnya ada kecenderungan untuk menghindar pada pilihan-pilihan yang dianggapnya terlalu sulit untuknya. Selanjutnya, merekapun tidak akan pernah mendapatkan pelajaran tentang makna yang berada pada sebuah pilihan.

 

Pelajaran dan makna yang dikandung pada sebuah pilihan, akanlah sangat menentukan kekuatan dan ketegaran dalam menghadapi suatu masalah. Sehingga tentu saja, jiwa dan kepribadian yang lemah akan mudah terjatuh pada masalah yang sebenarnya cukup ringan saja. Dan kepribadian dan jiwa yang lemah akan sulit mengembangkan hidupnya yang lebih berarti dan bermakna. Jalan hidup yang seharusnya lebih berarti dan bermakna, ketika harus mencari suatu untuk kehormatan diri. Jalan hidup yang lebih berarti dan bermakna, ketika harus di tuntut berjuang mencari kemapanan dan keberhasilan. Jalan hidup yang lebih berarti dan bermakna, ketika harus dituntut bersaing dalam hidupnya.

 

Tentu saja jiwa dan kepribadian yang lemah akan banyak menjadi tersisihkan dan mudah kalah di dalam keharusannya memasuki sebuah persaingan hidup, yang selalu harus ada. Tidak hanya itu saja, mereka juga mudah menyalahkan sesuatu yang bisa dijadikan kambing hitamnya. Mereka juga mudah menjadi tidak percaya diri dalam melangkahi hidupnya. Mereka juga mudah menjadi munafik ( membohongi diri sendiri ) dalam menghadapi hidupnya. Mereka juga mudah menjadi pengecut dan penakut dalam menghadapi kenyataan dalam hidupnya. Dan, dapat dipastikan, mereka hanya akan banyak menelan kesedihan demi kesedihan dan kekecewaan dalam hidupnya. Kemudian, yang paling mengkawatirkan, ternyata mereka bisa menjadi penghambat pada setiap gerak hidup ini yang harus mendaki dan terus maju dan maju. Inil semua, hanyalah sebuah akibat dari lemahnya kepribadian dan jiwa dalam menentukan sebuah pilihan !

 

Ini sangat berbeda jauh dengan seseorang yang mempunyai kepribadian dan jiwa yang kuat. Mereka telah banyak belajar dari banyaknya kesulitan demi kesulitan yang telah dihadapinya. Mereka telah banyak belajar dari kesalahan demi kesalahan akibat sebuah pilihan. Mereka telah banyak belajar tentang sebuah resiko yang ada pada sebuah pilihan. Dan merekapun akan banyak mengungkap makna dari banyak makna yang banyak terkandung pada sebuah pilihan. Merekapun pada akhirnya menjadi sosok yang kuat, punya prinsip, tegar menghadapi persoalan, semakin jitu menentukan sikap, dan semakin tertantang pada banyak persoalan hidup yang semakin rumit ini. Kemudian, pada akhirnya juga, mereka akan mudah mendapatkan kemajuan demi kemajuan, kehormatan demi kehormatan, kemapanan demi kemapanan, dan keberhasilan demi keberhasilan. Hidup merekapun seakan semakin mudah melangkahinya. Dan pada titik tertentu, seakan merasakan bahwa masalah yang akan dan sedang dihadapinya ternyata bukanlah sebuah masalah. Inilah hidup yang mereka dapatkan, dari sebuah hasil keberanian menghadapi resiko menentukan suatu pilihan !

 

 

 

Tantangan haruslah memperjuangkan atau mempertahankan sebuah kehormatan yang nyata !

 

Banyak orang keliru menempatkan suatu tantangan sebagai tantangan yang nyata. Menempatkan tantangan sebagai bagian dalam menegakan kehormatan dan kebenaran. Banyak orang keliru menempatkan tantangan sebagaimana orang mengatakan bahwa yang sudah umum itu dikatakan sebagai tantangan. Sehingga orang banyak terjebak pada pendapat-pendapat umum, yang telah mengatakan sesuatu yang umum itu sebagai suatu tantangan. Sehingga mereka seakan merasa bangga ketika dikatakan menyukai tantangan pada sebuah tantangan yang sama sekali tidak pada tempatnya.

 

Sebagaimana seseorang merasa bangga melakukan balapan motor liar di jalan milik umum dan telah menganggu pemakai jalan lainnya. Mereka seakan bangga karena dikatakan punya nyali mengikutinya, yang mungkin juga mempertaruhkan nyawa untuk melakukannya. Namun sayang mereka lupa tentang siapa yang telah memberi predikat pemberani dan punya nyali kepadanya itu. Dan sangat disayangkan juga bahwa mereka yang telah menonton dan memberi aplus tersebut ternyata hanyalah orang-orang yang selama hidupnya tidak mampu menempatkan masalah pada tempatnya. Sehingga yang terjadi pada mereka yang merasa mempunyai nyali dan keberanian itu, telah terjebak dalam hidupnya yang selalu tidak mampu menempatkan masalah pada tempat yang seharusnya.

 

Untuk itu sangat disayang juga, keberanian dan nyali yang mereka punyapun ternyata tak pernah menghasilkan apa-apa, kecuali kesulitan demi kesulitan yang pada akhirnya harus diterimanya. Bagaimana tidak dan sangat bisa dipastikan pula, jika pada akhirnya merekapun hanya akan cenderung dimanfaatkan orang atas kemampuan tersebut. Bagaimana tidak, jika mereka telah menempatkan sesuatu pada dunia liar, maka merekapun seakan hanya punya pilihan pada jalan-jalan yang penuh dengan keliaran. Jalan-jalan liar yang penuh kelicikan, pemanfaatan dan kebohongan. Sehingga tidak sedikit dari merekapun harus berakhir pada urusan-urusan hukum yang telah menunggu dan menghadangnya. Untung kalau hanya kesalahan demi kesalahan kecil yang mereka hadapi itu. Bagaimana jika ternyata, karena kesalahan tempat bermula, telah dimanfaatkan oleh gembong-gembong penjahat yang telah menfaatkannya keberanian dan kelincahan mengendarainya. Tentu saja masalah mereka menjadi berat, hanya akibat kesalahan menempatkan keberanian dan nyali tidak pada tempatnya. Sungguh sayang dan sangat disayangkan, betapa mulianya jika keberanian dan nyali itu ditempatkan pada tempatnya pada awal mulanya. Tentu saja mereka seharusnya mendapatkan kehormatan yang nyata bukan malah penjara ! Sangat disayangkan memang, hanya karena tidak mampu menempatkan masalah pada tempat yang seharusnya !

 

Ini sangat berbeda jika mereka menempatkan keberanian dan kelincahannya itu pada arena yang penuh kehormatan. Tentu saja, tidak menutup kemungkinan mereka akan mendapatan sesuatu kehormatan yang sangat nyata. Kehormatan karena telah membawa nama harum daerah tempat tinggalnya. Mendapat kehormatan karena telah menjadi utusan bangsanya, oleh sebab keberanian dan kegigihannya. Bisa jadi mereka banyak menelan kekalahan, namun merekapun masih pantas menerima kehormatan itu, dengan senyata-nyatanya. Dan tidak lupa pula, keluarga, sanak famili ataupun keluarga besarnya, pastilah bangga akan keberanian dan prestasi yang telah dilakukan pada tempat yang seharusnya. Akhirnya tidak ada kata lain yang didapatkannya kecuali hanya kehormatan demi kehormatan yang akan diterimanya, menang ataupun kalah.

 

Inilah perbedaan yang nyata, kalau kita bisa atau tidak bisa menempatkan sesuatu tantangan ataupun masalah yang lainnya pada tempatnya ataupun tidak pada tempatnya. Sungguh sangat jekas perbedaannya, walaupun mungkin sama dalam resiko dan tantangannya. Sungguh aneh memang ! ternyata hanya dibedakan bagaimana mereka bisa menempatkan seusatu itu pada yang seharusnya ! Lalu siapakah yang mau-maunya meniru kebodohan-kebodohan mereka itu ?

 

 

Sudah saatnyalah Anda memilih dan menentukan Sikap !

 

Kembali ke masalah anda itu, pertama, tampaknya cewek anda belum saatnya dijadikan pilihan. Ini mengingat kepribadiannya yang masih belum mantap dalam menentukan sebuah pilihan. Menentapkan sebuah pilihan adalah momen penting untuk menentukan masa depan rumah tangga yang mantap dan harmonis, tanpa banyak masalah yang mengikutinya. Kepribadian yang masih lemah dalam sebuah pilihan akan sangat banyak menganggu kestabilan berumah tangga, pada saat-saat yang akan datang. Ketidakmantapan kepribadian dalam sebuah pilihan akan berefek besar pada pilihan-pilihan yang lainnya. Sebab harus diingat bahwa hidup kedepan adalah sebuah pilihan, ini tidak bisa tidak. HIdup harus merupakan sebuah pilihan.

 

Untuk ini kami menyarankan anda untuk tegas dalam menetapkan hidup. Dalam hal ini anda juga terjebak pada kenyataan pada ketidakmampuan menentukan sikap pada keadaan yang sudah tidak sehat. Anda mengatakan itu sebuah tantangan, padahal menurut kami itu hanyalah tantangan semu yang tidak pada tempatnya. Anda seakan terjebak rasa malu jika anda mundur begitu saja.

 

Namun persoalan bukan pada rasa malu dan tantangan yang tidak pada tempatnya itu. Lalu bagaimana kalau dia menjadi istri anda, dan kemudian ia selingkuh dengan orang yang menyukainya hanya karena alasan kasihan, apakah ini bagian dari tantangan. Ini bukanlah tantangan namun sebuah kesalahan yang tak bisa dibiarkan.

 

Menurut kami, tantangan yang sebenarnya adalah anda harus menentukan sikap. Menentukan sikap untuk memaksa dia membuat pilihan. Membuat pilihan yang menjadikan dia harus belajar menentukan pilihan. Membuat pilihan supaya dia mampu membuat pilihan dengan segala resiko yang ada. Membuat pilihan supaya si dia mampu memperbaiki kpribadianya yang tidak pada tempatnya, dan ini akan baik bagi dia untuk melangkahi hidup yang selanjutnya. Yang jelas dia harus belajar menentukan pilihan, demi hidupnya, bukan langkah hidup siapa-siapa, termasuk anda. Inilah tantangan buat anda yang sebenarnya.

 

Tantangan buat anda selanjutnya adalah anda harus bersikap satria mengatakan mundur kalau tidak ada kepastian tentang sebuah pilihan. Mengatakan pada si dia, bahwa anda mundur dan menunggu setelah ada kepastian yang senyata-nyatanya, bukan yang setengahnya. Jangan takut, anda dikatakan takut bersaing. Sebab kata-kata bodoh ini bisa menjebak anda pada persaingan yang sama sekali tidak menguntungkan dan tidak sehat.

 

Tidak menguntungkan dan tidak sehat, karena anda tidak sadar mendukung kepribadian si dia yang sangat lemah dalam kehidupan selanjutnya. Tidak sehat karena anda telah membuat dia selalu hidup pada ketidakpastian, akibat lemahnya sebuah pilihan. Tidak menguntungkan karena anda tidak pernah mendapatkan apa-apa kecuali kekecewaan demi kekecewaan pada saat -saat yang akan datang.

 

Jadi inilah yang sebenarnya tantangan yang senyata-nyatanya ! Bukan tantangan semu yang bisa menjebak anda dalam hidup selanjutnya. Selamat Mempertimbangkan dan Segera Menentukan pilihan. Karena Inilah hidup Anda !

Ingat jangan sampai ketinggalan satu topikpun, karena disana banyak rahasia hidup yang telah banyak dilupakan oleh sebagian besar orang. Dijamin ! Kalau anda bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari semua topik yang ada, Niscaya serasa jiwa anda baru bangun dari tidur yang terlalu lama !. Terimakasih !