|
*** Waspadai Sumber Keonaran & Kericuhan di Lingkungan Anda ! ***
Suami Membunuh Istri ?
Bapak Sumanta, 45 thn, Jawa Barat. 28 Februari 2005. Berita-berita media tak jarang memberitakan peristiwa-peritiwa penbunuhan dalam keluarga. Istri membunuh suami, suami membunuh istri, bapak membunuh anak, anak membunuh orang tuanya, adik membunuh kakaknya, suami membunuh wilnya dan lain sebagainya. Dalam keluarga justru sangat rentan terjadi pembunuhan ? Kenapa bisa begitu mas ?
MasIdan. Waduh-waduh Bapak ini ! Kayak pakai senjata M-16 saja, walau ringkas dan padat, memberondong pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang tak sedikit. Tapi tak apa-apa, kami tetap senang memcoba menjelaskannya. Walau mungkin akan kami bahas topik per topik. Mudah-mudahan bermanfaat. Sebelum kami membahas banyak hal tentang masalah ini, kami berharap Bapak membaca dulu kasus-kasus keluarga terdahulu, supaya lebih banyak memahami kasus-kasus yang berhubungan dengan masalah keluarga. Klik Saja >>> Aku Mencintai Wanita Lain ? >>> Suamiku dengan Kemenakanku ? >>> Artis Suka Cerai ? .
Semua Manusia Berpotensi jadi Pembunuh. Begini Pak, manusia itu memang unik dan pelik. Manusialah yang tak sedikit berperan menimbulkan bencana. Bencana apa saja yang bisa dibuatnya. Banjir akibat penggundulhutan, pembunuhan massal akibat bom atom, perang, terorisme dan lain sebagainya. Maka dari itu, disadari atau tidak, manusia berpotensi menciptakan bencana. Walau mungkin mereka hanya segelintir orang saja, namun kala mampu menciptakan kekuatan yang besar maka dapat dipastikan bencana yang akan terjadi adalh bencana yang besar. Bencana yang besar yang mampu menelan korban yang banyak pula. Memang manusia mempunyai perasaan dan akal yang mampu memilah-milah perbuatan yang pantas dan tidak pantas. Di sisi lain manusia mempunyai naluri untuk melakukan apa saja yang dikehendakinya. Naluri untuk menyingkirkan apa saja yang tidak disukai dan dibenci. Naluri inilah yang dapat menimbulkan kerusakan, bencana, penganiayaan dan pembunuhan, ketiaka akal dan perasaan benar-benar melemah atau tertekan. Oleh karena itu, Manusia ketika naluri sudah dominan bertindak maka jadilah manusia bak binatang pemangsa yang akan memangsa apa saja yang kan dimangsanya. Memang banyak faktor yang mempengaruhi pribadi dan perwatakkan seseorang menjadi sangat lemah akal pikiran dan perasaannya. Sehingga yang terjadi hanyalah mengedepankan nalurinya saja untuk melakukan tindakkan. Akan tetapi pada dasarnya manusia punya potensi membuat bencana, kerusakan, penganiayaan dan pembunuhan, terlepas dari faktor-faktor yang mengikutinya. Baik laki-laki maupun perempuan, orang tua maupun anak muda, kaya maupun miskin, masyarakat bawah maupun pejabat, penjahat maupun orang baik-baik, siapa saja, dimana saja, pokoknya siapapun dapat berpotensi melakukan pengrusakan dan pembunuhan. Tak terkecuali diri kita semua, tak luput dengan potensi melakukan hal tersebut. Baik dilakukan dengan sadar maupun tidak, disengaja atau tidak dan direncanakan atau tidak, semua bisa terjadi.
Laki-laki dan Wanita adalah Sifat yang berbeda. Keluaraga adalah komunitas terkecil dalam sistem kemasyarakatan. Di sanalah perwatakan dan kepribadian pertama kali terbentuk. Terbentuk dari dua kultur yang melakukan kompromi. Kompromi akan nilai-nilai yang dianut si istri dan si suami. Sebuah kompromi dari pergulatan nilai yang telah berlangsung sekian lama, yang penuh gesekan-gesekan konflik perbedaan dan kesalahpahaman. Tak sedikit keluarga yang gagal melakukan kompromi untuk membangun bahtera berumah tangga. Tak sedikit pula rumahtangganya berakhir dengan perceraian. Dan yang lebih memprihatinkan tak sedikit diantaranya telah terjadi kekerasan dalam rumah tangga, pemaksaan kehendak dengan ancaman, penganiayaan, bahkan sampai pada pembunuhan. Keluarga adalah sebuah sistem yang di dalamnya menganut nilai-nilai yang dipahaminya untuk menyikapi segala aktifitas ke dalam maupun keluar. Untuk itu pembentukkan rumah tangga baru merupakan pembentukan sistem nilai yang baru pula. Sistem nilai baru yang akan dipahami oleh dua insan manusia yang baru saja meniti kehidupan berumah tangga. Tentu saja sistem nilai yang baru ini akan terbentuk dari dua kepribadian dan perwatakan dua insan (suami dan istri) tersebut. Sistem nilai yang ada dalam kepribadian dan perwatakan masing-masing, sebenarnya sudah ada sejak mereka masih bujang dan sendiri. Suatu sistem nilai yang terbangun pada kultur keluarga yang terdahulu ( ketika masih ikut orang tua atau induk semang). Sistem nilai pada sifat diri (kepribadian dan perwatakan) yang dianut sejak awal inilah yang akan menjadi 'sinergi'. Sinergi dalam melakukan penyesuain-penyesuain dan kompromi. Konflik, pertentangan, kesalahpahaman dan benturan sifat diri dari dua kultur keluarga terdahulu 'harus' terjadi dalam meniti jalan hidup berumah tangga. Konflik, pertentangan, kesalahpahaman dan benturan sifat diri inilah yang akan menentukan masa depan kehidupan rumah tangganya. Tak jarang perbedaan-perbedaan dalam memahami suatu masalah telah menjadi pemicu terjadinya konflik (percekcokkan) berkepanjangan di dalam berumah tangga. Sikap tertutup, egoisme, dan sulit membangun komunikasi di antara keduanya akan menambah daftar kerumitan dalam menegakkan bahtera rumah tangga. Belum lagi 'sifat dasar' ( menurut tinjauan psikologi) kedua insan yang berlainan jenis ini mempunya sifat dasar yang terkesan kontras (berlawanan) dalam menyikapi banyak hal dalam rumah tangganya. Wanita sering terbawa suasana hatinya dalam menyikapi semua masalah dalam kehidupannya. Wanita cenderung menggunakan perasaannya dalam menjalankan semua aktifitas kesehari-hariannya. Oleh karena itu wanita sering emosional dan terkesan tergesa-gesa dalam menyikapi masalahnya. Sehingga mereka mudah sekali kawatir dan risau menhadapi hal-hal yang sebenarnya sepele. Ini sangat kontras dengan laki-laki yang terkesan santai menjalani kehidupan sehari-hari. Makanya tak jarang mereka menganggap kecil masalah yang sebenarnya merupakan masalah besar. Kesan yang lamban pada laki-laki disebabkan terlalu banyaknya perhitungan yang dilakukannya dalam menyikapi hidup. Perhitungan-perhitungan inilah yang akan menimbang untung ruginya jika ia memutuskan untuk melakukannya. Oleh karena itu laki-laki pada umunya memperhitungkan jauh kedepan apa-apa yang akan dilakukannya, sikap inilah yang memberi kesan lamban pada laki-laki. Dan masih banyak lagi sifat-sifat kontras pada diri laki-laki dan perempuan. Namun sebenarnya masalah ini menjadi mudah terselesaikan jika kedua belah pihak mampu menjalin komunikasi, dan menjauhkan sikap-sikap egoisme diri.
Pembunuhan terhadap Istri terjadi akibat tekanan Mental yang berat. Kekurangpahaman wanita terhadap kejiwaan (psikologi) seorang laki-laki adalah faktor utama pemicu masalah-masalah berat dalam hidup berumah tangga.. " Wah ini maaf lho pada para wanita, yang dalam tulisan ini cenderung kami anggap jadi biang keladi semua masalah rumah tangga. Namun jujur saja, ini saya lakukan dengan berat hati, dan harus kami uraikan, mengingat realitas yang ada dari banyak kasus yang terjadi, sekali lagi mohon maaf" Di hadapan banyak wanita, laki-laki dianggapnya sebagai mahkluk yang mau enaknya sendiri, sok kuasa dan mau menangnya sendiri. Mereka (laki-laki) dianggapnya sebagai mahkluk yang akan memberi perhatian dan kasih sayangnya jika 'ada maunya' saja. Dan ketika kemuannya dipenuhi kembalilah ia pada keadaan semula, kurang perhatian dan kasih sayang. Anggapan-anggapan dan kesalahpahaman inilah yang sering terjadi di banyak kehidupan rumah tangga. Sehingga mereka (wanita) merasa tidak dihargai dan cenderung dianggapnya sebagai orang ketiga. Anggapan dan kesalahpahaman inilah yang juga telah memberi peran penting menjadi duri dalam kehidupan rumah tangga. Di lain pihak sebagian besar laki-laki menganggap wanita sering terlalu banyak menuntut, cerewet, mudah marah hanya dengan persoalan sepele saja, dan tak mau tahu kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapinya. Laki-laki sering menganggap wanita akan berubah menjadi mahkluk yang manis, menyenangkan di hati, bermuka penuh keceriaan dan menentramkan di hati jika laki-laki sedang mendapat kemudahan-kenudahan secara ekonomis dan finansial. Atau mereka bermuka manis ketika kebutuhan ekonomis dan finansialnya terpenuhi atau mungkin malah berlebih-lebihan. Namun ketika laki-laki sedang menghadapi kesulitan ekonomi dan finansial maka mereka dianggapnya mudah berbalik perangainya, suka marah-marah dengan persoalan yang sepele, sering cerewet tentang suatu hal, suka membanding-bandingkan dengan orang lain yang sedang kelapangan ekonominya, dan cenderung meremehkan keberadaannya sebagai laki-laki. Kesalahpahaman dan anggapan ini juga menambah daftar panjang kerumitan hidup berumahtangga. Di saat wanita sedang mentruasi suasana hatinya menjadi sangat peka dan mudah terpancing amarahnya.Mudah mengumbar amarah yang sering sama sekali tidak masuk akal. Mudah marah, yang sebenarnya muncul, karena disebabkan kondisi fisik yang tidak stabil. Mirip dengan seseorang yang sedang mengalami tekanan darah yang tinggi atau rendah, perasaannya menjadi sangat peka. Dalam keadaan begini seorang wanita hampir bisa dikatakan tidak mampu menempatkan suatu masalah pada tempatnya. Hal ini bisa dipahami mengingat kondisi fisiknya baru labil dan merasa tertekan karenanya. Dalam keadaan begini jika ditanggapi atau dipahami sebagai suatu masalah maka akan menjadi sangat tidak bijak dan tidak pada tempatnya. Keadaan ini tak ubahnya sebagai seorang anak kecil yang baru keruh suasana hatinya, entah karena suatu sebab ( misal tidak dibelikan mainan), maka hari-hari itu akan mudah sekali cengeng dan mengamuk tanpa sebab yang jelas.
Keadaan jiwa (wanita) seperti inilah yang sering kurang bisa dipahami dan diketahui banyak laki-laki pada umumnya. Maka dalam keadaan ini sering ditanggapi dengan serius oleh laki-laki. Sehingga bisa dipastikan keadaan bisa semakin meruncing, tidak jauh berbeda ketika kita menanggapi suasana hati anak-anak yang sedang keruh (dalam bahasa psikologi strees anak-anak). Kalau sudah begini siapa yang sebenarnya kurang kerjaan ? Di lain pihak karena sifat dasarnya, laki-laki juga bisa mengalami masalah yang hampir sama dengan wanita yang sedang mengalami mentruasi. Yaitu ketika labido seorang laki-laki yang baru meninggi namun karena suatu hal tidak dapat tersalurkan, khususnya mereka yang sudah beristri. Keadaan ini justru lebih parah sebagaimana yang terjadi pada wanita. Sebab mereka akan menunjukkan sikap kerasnya sebagai sifat dasar laki-laki. Dalam keadaan ini bisa saja mereka tidak hanya marah-marah namun juga mengamuk melakukan kekerasan. Bagai sekor gajah yang sedang mengamuk merusak dan menginjak-injak apa saja yang ada di dekatnya. Oleh karena itu, dalam keadaan begini laki-laki sangat rentan melakukan pengrusakakan dan penganiayaan. Ini bisa dipahami keadan jiwa laki-laki dalam suasana ini sangat mudah tersinggung dan marah. Sebab secara naluriah akan tertekan jiwanya karena faktor biologis yang terhambat. Tekanan mental yang sedang dihadapi seperti diatas dan ditambah masalah-masalah lain di luar lingkungan rumah tangganya, akan semakin memperparah kondisi mental seorang laki-laki. Masalah pekerjaan yang membuatnya tertekan ( misalnya sedang di PHK, atau usahanya sedang mengalami kerugian besar) atau masalah lain yang sering terjadi dalam kehidupan di luar rumah tangganya adalah adanya pihak ketiga atau WIL. Kedua faktor diatas yang sering membuat laki-laki sangat tertekan jiwanya. Belum lagi faktor biologis yang terhambat, ditambah masalah di luar yang mengikuti secara bersamaan, akan mengakibatkan keadaan jiwanya sangat tidak stabil. Keadaan inilah yang sering melakukan kekerasan dan penganiayaan. Dalam keadaan yang berat, misalnya suasana dalam rumah tangganya yang baru memanas, masalah diluar juga tak kalah rumitnya, mengakibatkan laki-laki menjadi gelap mata dan tidak menutup kemungkinan terjadi pembunuhan atau malah mungkin melakukan bunuh diri. Dan korbannya adalah siapa yang lebih dulu memancing keadaan dalam kondisi laki-laki sangat tertekan mentalnya, bisa istrinya, bisa juga wanita simpanannya, tergantung keadaan yang memicunya. Tetapi tidak jarang pula kebanyakkan laki-laki yang sedang tertekan jiwanya melampiaskan kepenatannya dengan melakukan hal-hal yang sangat merugikan dirinya, misalnya mabuk-mabukan, narkoba, pergi ke lokalisasi, pergi ke rumah WILnya atau mencari WIL yang lainnya, bahkan tidak jarang melakukan tindakan-tindakan kriminal seperti merampok misalnya. Inilah yang sering tidak dipahami oleh banyak wanita tentang kejiwaan laki-laki. Lalu mengapa yang sering menjadi korban dan sasaran adalah istrinya atau keluarganya dari pada di lingkunngan luarnya, misalnya tetangga atau teman-temannya. Ini memang masuk akal mengingat keluarga adalah merupakan bagian hidupnya, yang diketahui seluk-beluknya. Seluk beluk tentang istri sebagai makhluk yang lemah dan cenderung kecil resikonya. Resiko yang kemudian menjadi masalah intern keluarganya ketika terjadi penganiayaan dan kekerasan. Dalam banyak kasus tak jarang wanita (istri) hanya diam saja menerima kekerasan dan penganiayaan. Karena mereka menganggapnya sebagai makhluk yang lemah dan tak bisa berbuat apa-apa. Tak jarang pula menganggap perceraian dan menjadi janda adalah persoalan yang tidak mudah. Inilah sasaran empuk bagi laki-laki yang sudah kehilangan akal dan pikirannya ! Nampaknya ini saja yang dapat kami kemukakan atas pertanyaan tersebut. Mudah-mudahan Bapak bisa paham dan dapat belajar banyak darinya. Terimakasih atas kepercayaannya, sampai jumpa kembali.
|