|
Suamiku dengan Kemenakanku ?
Sulfi, Jakarta, 3 Februari 2005. Aku harus pulang lebih awal, sebab mendadak badanku panas-dingin, sakit tak terkira. Aku mohon ijin kepada bapak kepala, karena aku tampak pucat dan sakit maka diijinkannya untuk pulang. Aku kuat-kuatkan pulang sendirian walau badan serasa tidak mendukungnya. Pelan-pelan laju kendaraan aku kendarai, akhirnya aku sampai juga di rumah. Seperti biasanya karena pintu depan sering dikunci, aku lewat pintu belakang. Tanpa pikir panjang aku bergegas menuju kamar utama, untuk merebahkan badan yang baru lemah ini. Tanpa kuduga ! Begitu pintu kamar kubuka, tak kusangka aku melihat suamiku berada di sana, tampak tidur mendengkur. Tapi ...! Duh Gusti...! Bagai tersamabar geledek ! Aku melihat kemenakanku ada di bawahnya. Lebih terkejut lagi, aku melihatnya tanpa sehelai kainpun yang dikenakannya. Aku limbung dan sempoyongan kemudian tersandar dipojok kamar.Seraya tak percaya apa yang sedang aku lihat. Kubelalakkan mataku tajam-tajam, siapa tahu ini hanya mimpi. Tapi aku tak pernah terjaga, pemandangan itupun tak pernah berubah. Mereka hanya bisa terbengong-bengong kaget tak karuan. Kemudian aku hanya bisa lari menuju kamar lain, menangis keras-keras meratapi apa yang barusan aku lihat, berteriak apa saja yang aku bisa, aku lemparkan barang-barang yang ada. Hancurlah..! Hancurlah semua, hati ini, masa depan rumah-tangga ini, segalanya...! semuanya...! Hidup bagai gelap penuh bara, bumi seakan-akan mulai mencabik-cabik jiwaku sampai kerelung tulang-tulangku ! Hari-hari bagai hampa tanpa rasa, kering oleh panasnya api, yang ada hanya ingin lari dan lari entah kemana ? Akhirnya aku pergi ke rumah mertua, siapa tahu aku dapat mengadu dan menenangkan hati. Hanya beberapa saat, aku langkahkan kakiku ke rumah kakak tertuaku, yang kebetulan anaknyalah yang ikut tinggal dirumahku, yang juga kemenakanku itu. Tanpa kuduga ! Tampaknya deritaku harus semakin dalam dan lebih dalam lagi ! Mertuaku, kakakku, Suamiku, bahkan kemenakanku, semua dan semuanya, ternyata hanya bisa menyalahkanku! Duh Gusti...! Apa yang salah denganku ! Apa yang kurang denganku ! Apa yang harus aku lakukan ! Sudah habiskah riwayatku ini ? Berilah jalan pada saya Duh Gusti..? MasIdan. Saudari Sulfi yang sangat menderita, Jujur saja, kami bingung, tertegun, tak habis pikir, dan terpana melihat penderitaan yang sedang Anda alami ini. Kami serasa ikut merasakan betapa pedih dan sakitnya perasaan anda. Tapi kami tidak setuju kalau riwayat hidup anda akan berakhir di situ saja. Dalam keadaan buntu, tidaklah mungkin tidak terdapat rongga-rongga untuk dapat melepaskan semua itu. Tuhan telah menciptakan bumi dan seluruh kehidupannya, tidaklah mungkin tanpa memberi jalan keluarnya. Jalan keluar sekecil apapun, pasti ada dan pasti bisa untuk dilewatinya. Sekecil-kecilnya sebuah benda (mati atau hidup) pasti bisa dilihat dan digambarkannya, segelap-gelapnya malam atau tanpa cahaya, pasti ada alat yang digunakan untuk bisa melihat apa saja yang ada, dan seterusnya, semuanya, pasti ada ! dan terpecahkan !
Sebelumnya Kami mohon maaf, bukan bermaksud menyederhanakan masalah anda, bukan berarti kami tidak bisa memahami keadaan anda saat ini. Cuma kami berharap kepada anda untuk segera melepaskan keterkungkungan masalah anda ini kepada keadaan yang dimana anda harus segera memposisikan diri pada tempatnya. Sekali lagi maaf lho Mbak, Kami heran seakan-akan ada pemandangan yang kontras ketika masalah itu terjadi, terbongkar atau sebelum terbongkar. Sebelum terbongkar, entah siapa yang memulai, betapa bahagianya suami anda dengan kemenakan anda yang telah menabur kesenangan diatas ketidaktahuan anda. Saat itu hidup anda biasa-biasa saja tanpa merasa ada bahaya yang mengancam. Dan ketika kasus itu terbongkar, yang ada hanya kegentingan dimana masing-masing mempunyai tempat dan keadaan yang berlawanan. Di sisi lain anda dalam posisi hancur yang tak terkira, namun di lain pihak dua sejoli, suami dan kemenakan anda (apapun alasannya) berada dalam kegentingan yang menyimpan kesenangan dan kebahagian yang 'tertunda'.
Kami heran, Apa yang selama ini telah anda lakukan untuk suami dan kemenakan anda dibalas dengan racun yang mematikan, ataupun kotoran yang menjijikan. Pemberian kasih-sayang, kebaikan-kebaikan hati, dan semuanya yang telah mereka terima dari anda, apapun bentuknya, sedikitpun tak mempunyai arti sama sekali. Perlu kami tegaskan di sini, maksud kami tentang kekontrasan itu adalah di sisi lain, anda hanya akan mendapat kepedihan-kepedihan dari itu semua. Di lain tempat secara gamblang (apapun alasan dan penyebabnya) mereka telah merengkuh kesenangan-kesenangan walau tidak pada tempatnya.
Kami heran, Anda mungkin bersemangat bekerja dan meniti karier hanya untuk menyiapkan atau membangun sebuah rumah tangga yang layak dan bahagia. Namun pada kenyataannya anda mendapatkan sesuatu yang sangat berlawanan, di mana anda seakan-akan mengalami keterpurukan batin. Menurut hemat kami, seharusnya apapun yang terjadi selayaknya andalah yang berhak mendapatkan kebahagian itu, di rumahtangga, keluarga, atau di manapun anda berada, untuk mendapatkan apa yang telah anda usahakan dan harapkan. Jadi menurut hemat kami, bukan malah seharusnya suami anda atau kemenakkan anda yang justru menunai kebahgiaan anda yang telah lama anda usahakan dan harapkan itu.
Bahagia adalah Milik Pribadi.
Mbak Sulfi yang merana, yang baru tidak bisa merasakan arti sebuah kebahagian. Mungkinkah kebahagian itu baru meninggalkan anda sendirian. Mungkinkah kebahagiaan itu datang kembali, tapi dimana jalan untuk mencari ?
Tuhan telah menciptakan kita sebagai sosok pribadi, yang bertanggungjawab atas segala apa yang telah kita perbuat, kita maui, kita pilih dan lain sebagainya. Kita tidak bisa melimpahkan kesalahan kita kepada orang lain, demikian juga sebaliknya, kita tidak bisa dibebani kesalahan yang telah diperbuat orang lain, siapun dia. Tapi memang kita bisa (membantu) mencarikan jalan keluar tehadap apa yang telah diperbuat orang lain. Hukumpun juga tidak bisa menghukum orang yang tidak berbuat pelanggaran hukum.Oleh karena itu, Kita harus menjadi sosok pribadi yang bertanggungjawab secara pribadi, dalam memilih segala-galanya yang telah dipilihnya secara pribadi.
Demikian juga dengan kebahagian, kebahagian harus menjadi milik pribadi bukan milik siapa-siapa. Akan tetapi, hak orang lain juga untuk mendapatkan kebahagian itu. Memang kebahagian itu bisa muncul di mana saja, kapan saja, sendirian ataupun dengan orang lain. Kita bisa saja bahagia dengan orang lain, namun pada dasarnya kita sendiri yang harus menciptakannya, atau orang lain itu sendiri yang juga berusaha menciptakannya. Banyak orang kurang mengerti untuk menempatkan kebahagian pribadi sebagai hak pribadi (apalagi dihadapan Tuhannya), sehingga seakan-akan mereka merasa kebahagian itu harus dengan si-A, atau si-B, atau si-C dan seterusnya. Walaupun sebenarnya yang terjadi adalah mereka masing-masing telah menciptakan kebahagiaan itu, dan selanjutnya masing-masing sendirilah yang berhak mendapatkan kebahagian yang diciptakan dan diusahakannya itu.
Ini sangat mirip ketika anda sedang bahagia mendapat karier, pekerjaan atau sesuatu yang anda harap-harapkan. Dan Anda juga sangat bahagia menjalani pekerjaan dan karier, yang memang selalu anda harap dan citakan itu. Tapi harus anda ingat, kebahagian itu muncul karena memang telah anda usaha dan ciptakan. Jadi, bukan malah pekerjaan dan karier itu yang telah memberi anda kebahagiaan itu. Lho kok ? Ingat pekerjaan dan karier adalah 'kata kerja' atau mungkin 'kata sifat'. Oleh karena itu, bagaimana mungkin 'kata kerja' atau 'kata sifat' mampu memberi kebahagiaan yang hanya bisa dirasa oleh perasaan manusia, jadi sebenarnya yang bersangkutan sendirilah yang telah menciptakan kebahagiaan tersebut, bukannya malah 'kata sifat' atau 'kata kerja' tersebut.
Jadi kebahagian adalah milik pribadi yang pantas kita terima, karena kita mengusahakan dan mengharapkannya, apapun persoalan yang sedang dihadapinya. Banyak orang salah mengerti bahwa kebahagian mereka peroleh karena pemberian dari suatu benda atau oleh orang lain. Ketika orang lain sedang memberi kebaikan-kebaikkan kepada kita, kita merasa bahagia karenanya. Dan suatu ketika orang lain telah berbuat kejahatan kepada kita, kita kelimpungan, marah dan sangat kecewa menerimanya. Maka sangatlah wajar seseorang merasa bahagia karena telah memberi kebaikan-kebaikan, mungkin kita juga merasa bahagia karenanya. Akan tetapi ada yang tidak bisa dimengerti, ketika orang lain melakukan kejahatan kepada kita, kita malah yang menanggung kesusahan tersebut (kelimpungan, marah atau sangat kecewa). Kenapa harus kita ? Padahal kita sama sekali tidak melakukan kejahatan tersebut ?
Percayalah ! Siapa yang menebar benih, ialah juga yang akan menuianya. Siapa yang menebar kejahatan, maka ialah yang seharusnya menuai hasil kejahatannya. Jadi, kenapa harus kita yang tidak melakukannya. Maka, (maaf, ini seharusnya lho) kita seharusnya tidak boleh berlarut-larut atas kejahatan dan keburukan yang dilakukan orang lain. Kita harus segera bersikap dan memilih. Memilih akan hak-hak kebahagian yang memang kita usahakan dan harapkan. Kebahagian yang tidak harus menjilat dan meminta dari orang-orang yang suka melakukan keburukan dan kejahatan kepada kita. Kebahagiaan adalah hak milik pribadi, maka kitalah yang harus menciptakannya, bukan menunggu pemberian orang lain.
Hidup memang sebuah pilihan, maka setiap langkah dalam meniti kehidupan adalah sebuah pilihan untuk dijalani. Oleh karena itu, jika kita berhenti memilih langkah hidup ini, kecuali untuk memperhitungkan dan mempertimbangkan langkah tersebut (apalagi hanya digunakan untuk meratapinya tiada tepi / batas), sama saja kita telah menghentikan hidup kita tanpa memberi arti. Menghentikan hidup, padahal kita masih hidup adalah kesalahan besar, yang tidak boleh terjadi pada diri insan manusia di muka bumi ini. Kita tidak boleh jadi pengecut menjalani hidup. Kita harus berani memilih untuk melanjutkan hidup. Ketahuilah bahwa bumi ini tidak akan memberi tempat yang tinggi bagi seorang pengecut untuk menjalani hidup. Karena mereka (pengecut) hanya akan menjadi alat dan permainan para pengecut-para pengecut lainnya. Maka dari itu, jauhilah sikap itu ,janganlah jadi bagiannya, bersegeralah memilih jalan hidup yang terus bergerak ini.
Kehadiran Orang Lain dalam Rumah Tangga.
Ada ajaran Agama tertentu yang melarang seseorang yang sudah dewasa untuk sering bersamaan dengan seseorang berlainan jenis yang sudah dewasa pula dalam suatu tempat tertentu, tanpa ditemani atau disertai oleh orang lain yang menemaninya. Entah mereka, kita sendiri, suami, istri, anak, saudara, pembantu atau siapapun yang sudah dewasa dan berlainan jenis. Ajaran Agama tersebut tidak ada jeleknya dijadikan pertimbangan adanya sebuah peringatan terhadap kita semua untuk menjalin hubungan dengan orang lain, khususnya dalam kehidupan berumah-tangga.
Lepas dari persoalan Agama tersebut, Fakta telah banyak membuktikan adanya berbagai kasus dan persoalan yang muncul akibat hubungan-hubungan tersebut. Persoalan-persoalan tersebut tidak terbatas pada kalangan bawah sampai kalangan atas, seorang yang agamawan, berpendidikan ataupun orang biasa, semuanya berpotensi memunculkan masalah. Namun yang jelas jika kita menghadapi persoalan tersebut, sudah sepantasnyalah untuk waspada dan selalu memiperhatikan kemungkinan-kemungkinannya. Namun menurut hemat kami, mencegah sesuatu yang sudah sering terjadi akan lebih baik daripada hanya mengawasi, yang hanya mempunyai kemampuan yang sangat terbatas dalam mencegah kemungkinan itu dapat terjadi.
Apa jeleknya menambah seorang pembantu, tukang kebun, baby sister, dan lain-lain. Ini akan lebih baik walau kita harus menambah anggaran atau mengalami kerugian harta benda daripada kita kehilangan harga diri atau memerosokkan orang-orang dekat atau yang kita cintai dalam persoalan-persoalan ini. Inilah yang sering dilupakan banyak orang atau malah mungkin tidak diketahui akan munculnya persoalan-persoalan yang mungkin muncul akibat adanya hubungan tersebut, baik disadarinya ataupun tidak disadarinya.
Manusia adalah mahkluk yang sangat lemah, yang mudah tergoda oleh sesuatu yang menjadi panggilan nalurinya. Sehebat-hebatnya manusia, sepandai-pandainya mereka, ataupun sesuci-sucinya seseorang, mereka adalah manusia yang sangat mudah terperosok dalam kubangan yang tak kentara itu. Oleh karena itu, sebagai insan manusia, sudah sewajarnyalah, kita lebih baik mencegah terjadinya masalah, daripada kita harus susah payah menghadapi masalah, yang mungkin sangat rumit dan pelik itu. Maka, pantaslah kita untuk segera memilih sesuatu yang harus dipilih untuk menyikapi hidup ini, walaupun orang lain mungkin kurang berkenan, kecewa ataupun marah karenannya.
Sebab menuruti kehendak orang lain, tanpa dilandasi pengetahuan dan pertimbangan, tidak akan ada habis-habisnya. Malah kadang -kadang, tak banyak menimbul kerugian yang tak kecil di pihak kita, baik secara moril maupun materiil. Tak jarang pula menimbulkan masalah yang tidak kecil dalam kehidupan kita berumah tangga. Mungkin mereka tidak bisa memahami dan kecewa, namun kekecewaan mereka tidaklah seberat kekecewaan yang kemungkinan akan kita hadapi. Banyak alternatif dan solusi untuk bisa dilakukan menghindari semua masalah yang ada, semua pasti ada jalan keluarnya. Akan tetapi, kita tidak boleh menanggung kekecewaan mereka, yang sepantasnyalah mereka terima sebagai peminta bantuan dan bukan tanggungjawab kita menanggungnya. Hidup haruslah mampu memilih walaupun awal-awalnya sering kurang menyenangkan !
Tampaknya hanya ini yang dapat kami kemukakan sebagai pengantar pemecahan masalah yang sedang Anda hadapi tersebut. Kami sangat menyesal, ternyata hanya ini yang baru bisa kami kemukakan. Tentu saja ini belum cukup untuk menyelesaikan masalah anda yang cukup rumit tersebut. Sambil menunggu perkembangan tentang langkah-langkah yang akan anda tempuh, kami berharap anda sekiranya dapat memberi informasi yang lebih detail mengenai masalah anda ini. Namun demikian, kami berharap dan berdoa, dengan ini, anda segera menemukan langkah-langkah selanjutnya dengan penuh kemantapan diri. Terima kasih atas kepercayaan anda kepada kami.
Untuk sedikit-banyak memahami yang berkaitan dengan keluarga, perkawinan dan jodoh, silahkan klik >>> Aku Mencintai Wanita Lain ? >>> Suamiku Sudah Berubah ? >>> Artis Suka Cerai ? >>> Aku Takut Ditolak ?
|