Aku Mencintai Wanita Lain ?

 

Mas Bimo  35 thn, Solo, 1 Februari 2005.

 

Mas Idan yth, sebenarnya saya malu untuk bertanya but ini harus....
saya punya istri 1 anak 1 umur 6 th, di lingkup kerja, saya naksir ama
seorang cewek (edan nggak)dan saya beranikan untuk omong maksud hati saya,
emang sih cewek tersebut nolak lantaran saya udah punya istri dan dia
single, tp lebih edanya lagi saya tu terus ngejar dan tidak putus asa
untuk mendapatkannya. Mas Idan gimana dong penyelesaiannya, terusin ato
nggak, apa hukumnya di islam..... ma kasih ya massss...

 

 

MasIdan.

 

Mas Bimo yang merasa nekad,  begini Mas pertama-tama menurut kami, kalau hanya tertarik sama cewek lain padahal kita sudah beristri adalah sebuah kewajaran yang 'manusiawi'. Ketahuilah mas pada dasarnya kalau semua laki-laki yang sudah beristri mau jujur, pasti akan mengakui bahwa mereka masih merasa tertarik pada wanita lain yang tentu saja bukan istrinya. Namun umumnya perwujudan dari itu semua hanya akan teraktualisasi ( dimunculkan atau dilampiaskan ) dengan menggoda dan sejenisnya.

 

Walau begitu, kami menganggap, ini maaf lho Mas, tindakan Anda cukup berani dan agak nekad, meskipun kami sangat memahaminya. Kami menganggap agak nekad kalau tindakkan itu dilakukan tanpa perhitungan dan pertimbangan yang matang. Dan kalau melihat sekilas masalah anda cenderung dilakukan secara emosional dan serampangan. Tapi kami yakin itu semua pasti ada sebab-musabab yang mendorong anda berani melakukan itu semua. 

 

Ada beberapa kemungkinan sebab musabab yang mendorong itu semua, tapi ini hanya untuk pemgetahuan saja lho Mas !, kemungnan utama yang sering terjadi pada kasus-kasus yang mirip seperti yang anda alami ialah : kehidupan keluarga yang penuh duri, kurang harmoni dan merasa kurang nyaman tinggal di rumah sendiri. Untuk sedikit memahami yang berkaitan dengan keluarga, perkawinan dan jodoh silahkan klik >>> Suamiku Sudah Berubah ? >>> Artis Suka Cerai ?  >>> Aku Takut Ditolak ?

 

Wanita dan Misteri ?

 

Keluarga yang penuh duri dan masalah disebabkan oleh banyak faktor. Faktor yang banyak terjadi adalah kurangnya istri memahami apa dan mengapa hakikat perkawinan  itu, Mertua atau Orang tua yang ikut campur dalam urusan rumah tangga anak, Mertua atau Orang tua yang kurang atau tidak merestui perkawinan anak yang telah membuat masalah tersendiri dalam kehidupan rumah tangga anak, dan terakhir yang juga sering terjadi, sekali lagi maaf lho Mas, adalah faktor anda sendiri yang mungkin masih belum banyak mengetahui tentang hakikat apa kita membangun perkawinan itu ?

 

Dari keempat faktor tersebut, dari banyak kasus, kapasitas pemahaman (wawasan)  istri tentang sebuah perkawinan sering menjadi pencetus utama terjadinya duri dalam rumah tangga. Kebanyakkan seorang istri kurang bisa membaca situasi yang sangat mungkin membahanyakan rumah tangganya. Mereka sering menggunakan emosi daripada nurani ketika menghadapi pernik-pernik masalah rumah tangganya. Kurang bisa memahami peran dan kewajiban seorang istri terhadap suaminya. Bermain api  dengan amarah emosi tanpa dilakukan dengan penuh kebijakkan, penuh pemahaman dan hati yang penuh kejernihan terhadap suami. Inilah pencetus bahaya-bahaya dalam rumah tangganya, yang sama sekali tidak ia sadari dan harapkan.

 

Wanita sering disebut sosok 'misteri' yang tak terduga emosinya. Emosi yang sering kurang masuk akal dan bisa dipahami. Wanita memang diciptakan oleh Tuhan untuk selalu menggunakan perasan daripada akal pikiran ketika menghadapi masalah dan kesehari-hariannya. Makanya jangan heran suatu ketika anda berkendaraan di jalan, di depan samping kanan anda seorang wanita tiba-tiba menghidupkan lampu tanda mau belok dan kemudian menelikung begitu saja, tanpa memperhitungkan jarak kendaran di belakangnya untuk diberi waktu melihat aba-aba. Atau kecerobohan-kecerobohan lain yang sering banyak terjadi pada wanita. Sebagai misal ketika mereka melihat bahaya akibat sesuatu yang bisa membahayakan keluarga dan dirinya. Mereka cenderung berteriak-teriak dalam menyikapi suatu keadaan yang membahayakan tersebut, dari pada segera bertindak untuk mencegah, mengatasi keadaan itu, menyelamatkan anak-anak, atau juga segera menyelamatkan dirinya sendiri.

 

Itulah sekelumit sosok wanita yang menjadikannya sering tak terduga yang memang telah di ciptakan Tuhan untuk mengandalkan perasaannya daripada akal pikirannya. Semua itu bukan tanpa arti seperti dinginnya air dan panasnya api, dinginnya air yang bisa menjadikan sebuah malapetaka banjir dan panasnya api yang mampu menciptakan kebakaran hebat melalap segala sesuatu yang ada tanpa kecuali. Akan tetapi bukan berarti musibah dan malapetaka itu tidak bisa dicegah atau dikendalikan. Bahkan kalau kita mampu, tapi memang seharusnya mampu, dinginnya air dan panasnya api bisa dikendalikan sedemikian rupa sehingga justru akan memberi manfaat dan sinergi (memberi semangat hidup).

 

Kembali kepersoalan Anda, persoalan laki-laki yang sudah beristri terhadap wanita disekitarnya, baik yang sudah bersuami, belum bersuami, atau janda, ataupun keberadaan kita sebagai rekan kerja, relasi bisnis, teman biasa, atau yang lainnya. Adalah kenyataan yang harus dijalani menyertai hidup kita sehari-hari. Keberadaan kita dan mereka (wanita) dalam sehari-hari tak jarang memunculkan persoalan tersendiri, baik yang menyenangkan maupun yang menjengkelkan. Semua berjalan begitu saja sesuai proses alami dan manusiawi. Walau begitu, kalau kita tidak berhati-hati dan pandai-pandai menempatkan diri, tidak menutup kemungkinan Kita (laki-laki) akan menciptakan persoalan-persoalan sendiri di dalamnya. Persoalan-persoalan yang tak sedikit membawa malapetaka-malapetaka yang tak terduga. Bagai kita seakan baru mendapat masalah bertubi-tubi yang sulit dicari ujung-pangkal masalah, yang sulit diatasi.

 

Banyak di antara kita, kaum laki-laki, terjebak dalam suatu lubang dan sangat kesulitan mencari jalan keluarnya. Hanya kita lalai tidak memperhitungkan dan mempertimbangkan dengan seksama, sebuah resiko dari suatu pilihan. Memilih suatu keinginan adalah sifat manusiawi yang menyertai agar insan manusia tetap bisa eksis (bertahan) untuk hidup dalam kehidupannya. Akan tetapi memilih suatu pilihan hidup tanpa mempertimbangkan dan memperhitungkan resiko dan keuntungannya, ibarat anak kecil sendirian melihat kolam untuk bermain, tanpa tahu dalam tidaknya kolam tersebut.

 

Hidup adalah Sebuah Piliahan.

 

Hidup ini selalu ada dua pilihan, memilih yang baik atau yang buruk, memlih yang sesaat atau berkelanjutan, memilih yang menyenangkan atau malah menyusahkan, dan lain sebagainya. Insan manusia memang diberi kebabasan untuk memilih apa saja yang diingikannya, tetapi harus ada satu pilihan yang akan diterimanya, tidaklah mungkin kedua-duanya mampu direngkuhnya.

 

Membahas keinginan manusia memang tiada habis-habisnya, segala sesuatu selalu saja ingin dimilkinya. Dan kalau semua itu ditururi begitu saja pasti takkan pernah ada akhirnya. Insan manusia selalu melihat sesuatu yang lain itu lebih baik dan menarik daripada apa yang dimilkinya. Selalu menginginkan yang baru dari pada apa yang sudah lama dimilkinya, sesuatu yang lain daripada yang sudah ada. Itu semua adalah sifat naluriah manusia yang diciptakan mempunyai perasaan dan harapan-harapan. Manusia memang diberi kebebasan untuk menikmati dari 'hasil terakhir' dari sebuah pilihan dengan resiko yang telah disiapkan, apakah lebih menyenangkan atau malah kesusahan dan kesulitan yang akan didapatkannya.

 

Keinginan manusia terhadap sesuatu yang baru, dapat diibaratkan dengan seseorang  memiliki sepeda motor atau mobil (sesuatu atau barang) baru untuk pertama kalinya. Betapa bahagia dan menyenangkan saat itu, seakan kepuasan dan kenikmatan mencapai puncaknya waktu itu. Kendaraan tersebut selalu dipakainya dengan penuh kemantapan, sangat ia sayangi, dibelai-belainya, dilap berkali-kali seakan debu tak boleh mengotorinya, dilindunginya dengan penuh kehati-hatian supaya tak tergores oleh sesuatu. Hari-hari bagai menjadi miliknya. Matahari serasa terang benderang menyinarinya. Bagai hidup melayang-layang penuh kebahagiaan.

 

Namun sayang waktu terus berlalu, kayu dan besi yang kokoh itu akhirnya sedikit demi sedikit keropos dan lapuk juga, oleh hujan dan panasnya matahari. Segala sesuatu yang baru akan menjadi biasa, bahkan tak menutup kemungkinan mulai membosankan atau malah menjengkelkan.Kepuasaan dan kesenangan itupun semakin memudar. Dan hidup sudah mulai membosankan dan kurang bermakna. Sesutau yang baru itu sudah mulai nampak kelemahan dan kekurangannya.

 

Kemudian ia mulai banyak melihat banyak kendaraan yang baru mulai bermunculan sekaligus menggiurkan. Kendaraan baru itu selalu ditampilkan dengan penuh keunggulan, kelebihan dan kenyaman yang lebih menjanjikan. Siapa insan manusia yang tak tergoda oleh kemolekannya. Karena mampu dan ada akhirnya membelinya. Hari-hari kembali menjadi miliknya, keceriaan dan semangat mulai terdorong lagi olehnya, perasaan dan khayalannya telah banyak tertumpah kepadanya. Kendaraan yang lalu sudah tidak menjadi perhatiannya.

 

Waktu juga terus berlalu tanpa ada yang mampu mencegahnya. Keadaan yang memuncak lama kelamaan menurun juga, seperti sedia kala. Terus menerus berputar tiada henti-hentinya. Keinginan demi keinginan kalau dituruti ternyata juga tiada akhirnya. Kenikmatan yang memuncak saat itu terasa hanya sebentar saja. Tidak jarang hidup kembali membosankan dan menjengkelkan. Sampai kapan waktu itu terhenti seperti ketika ia meraih hari-hari yang sangat menyenangkan itu. Tentu saja mustahil ada yang mampu melakukannya.

 

Di lain pihak, ada sedikit orang yang kreartif menyiasati hidup yang selalu tidak pasti ini. Yang masih bertahan pada kendaraan satu-satunya. Yang memang diniatkan dibelinya untuk dipakai dan dirawatnya. Ia siasati hari demi hari dengan fariasi, modifikasi dan perbaikan-perbaikan disana sini. Selalu ia pertahankan kepuasan demi kepuasan dan kesenangan demi kesenangan dengan kreasi. Ia juga terus mempertahankan kendaraan tersebut sehingga masih mantap untuk dinaiki. Mempertahankannya untuk selalu tampak menarik hati. Terus dan terus berusaha berkrasi menyiasati kepuasan hidup yang terus berjalan ini.

 

Walau mungkin, kendaraan tersebut dibelinya dalam keadaan yang tidak baru lagi. Namun ia tetap percaya diri untuk mampu menjadikannya tetap menarik di hati. Ia sadar betul bahwa kepuasan hidup sejati tidak harus diperoleh dari memilki sesuatu yang selalu baru. Karena ia sadar bahwa yang baru itu mempunyai 'nilai baru'  hanya  beberapa waktu berlalu, selanjutnya pasti barang tersebut akan menjadi barang yang biasa saja, tidak kurang dan tidak lebih. Karena suatu sifat yang baru hanya berlaku pada suatu saat tertentu saja.

 

Sudah selayaknyalah kita harus memilih sesuatu yang seharusnya, yang permanen, yang cenderung kekal didalamnya. Sehingga kita mampu menikmati hidup ini dengan wajar dan selayaknya. Bukan naik-turun dengan cepat dan cenderung mengakibatkan goncangan-goncangan. Kalau toh harus naik turun, sudah selayaknya kita memilih jalan yang malah bisa menyenangkan, bukan tiba-tiba dan tajam. Akan tetapi jalan naik-turun yang landai dan sekaligus bisa untuk dinikmati,.yang kemudian justru menimbulkan kesenangan-kesenangan tersendiri.

 

Namun akhirnya semua kembali pada insan manusia yang bersangkutan untuk memilih jalan hidupnya, dengan segala resikonya. Tiada hak yang memaksa untuk melakukan sesuatu dalam hidupnya. Kecuali hanya mampu menjelaskan dan memahamkan hidup yang sewajarnya. Hidup yang bersifat tetap dan tidak mudah goyah. Hidup yang didalamnya mengadunng kesenangan dan kepuasan sejati, bukan semu, yang mudah sekali mengombang-ambingkan kesenangan hidup kita pada sesuatu keadaan yang cenderung tidak pasti. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkannya. Dan tidak ada tempat untuk merasa dirinya tidak mampu melakukannya, kecuali dengan niat dan tekad yang begitu kuat. Semua akan dikembalikan pada dirinya sendiri untuk memilihnya.

 

 

Tentang Hukum Islam.

 

Wah.. yang satu ini, terus terang, gampang-gampang susah adanya. Jujur saja kami ini bukanlah ahli agama, walaupun kami akui pernah belajar tentangnya. Berbicara tentang agama kita tidak bisa menjalankan dengan setengah -setengah, semua harus dilakukan sebagai satu kesatuan. Namun yang jelas seseorang harus mencerminkan budi pekerti yang luhur sebagai cermin dari keluhuran ajaran agama tersebut. Oleh karena itu, seorang yang mencoba mendasari kehidupannya dengan landasan agama harus siap menjalankan apa-apa yang memang diajarkan oleh agama tersebut.

 

Kita tidak bisa mengambil dasar-dasar agama yang kita perlukan saja, namun mengabaikan dasar-dasar ajaran agama yang lainnya. Sebab kalau hal itu terjadi sama saja kita melakukkan kemubadziran yang sama sekali tanpa arti. Oleh karena itu, sebelum kita memantabkan diri melakukan sesuatu itu berlandaskan agama tertentu, sudah selanyaknyalah kita pantas bertanya padiri kita sendiri : Apakah kita sudah dan akan benar-benar melakukan apa-apa yang telah diajarkan oleh agama tersebut ? Ataukah kita sudah mampu untuk tunduk pada ajaran yang diajarkan oleh agama itu, sedemikian rupa sehingga semua permasalahan yang ada disandarkan kepadanya ? Ataukah kita melakukan itu hanya karena pada suatu keadaan yang emosional saja dan tidak berkelanjutan ? Dan banyak hal yang harus kita pertanyakan pada diri kita.

 

Agama adalah kearifan, kejujuran, keadilan dan kasih sayang yang ada pada tempatnya. Dengan landasan agama tidaklah mungkin kita akan menciptakan ketidakadilan, kebohongan, ada yang merasa teraniaya akibat tindakan kita, dan segala sesuatu yang dapat menciptakan ketidaknyamanan-ketidaknyamanan dan kekhawatiran-kekhawatiran orang disekitarnya.  Agama harus mampu menjadi penyejuk hati, pelepas dahaga, dan kebaikkan -kebaikkan yang ditebarkannya. Minimal Kita harus mampu memberi pemahaman kepada mereka apa maksud dibalik semua ajaran agama tersebut.

 

Setelah kita mampu memahami dan menjalankan apa-apa yang menjadi pesan dalam ajaran agama (khususnya Islam), sudah saatnyalah kita sedikit membahas masalah poligami dalam ajaran Islam. Menurut hemat kami, pada dasarnya ajaran Islam memperbolehkan seseorang melakukan poligami, namun dengan syarat-syarat yang agak ketat dan cukup berat. Poligami adalah sebuah realitas yang ada dimuka bumi ini. Sebuah realitas yang mampu menjawab kenyataan-kenyataan yang ada. Akan tetapi sayang telah banyak disalahartikan dan disalahgunakan. Sehingga yang terjadi bukannya pemecahan atas realitas yang ada, akan tetapi malah banyak menimbulkan banyak masalah dan keburukan. Semua orang merasa mampu untuk melakukan dengan tujuan yang mulia, tetapi pada kenyataannya, yang terjadi hanyalah sekedar mencari kesenangan-kesenangan belaka, jauh dari harapan agama untuk memberi solusi yang disalahgunakannya

 

Hal-hal itulah yang telah menjadi momok bagi kaum wanita. Ini sangat bisa dipahami atas jawaban masa lalu yang cenderung memojokkannya. Mereka sebagian besar sudah anti pati dengannya (poligami). Namun sayang sebagian besar dari mereka (wanita) tidak mengimbanginya dengan usaha sebagaimana yang diharapkan oleh pesan-pesan dalam ajaran agama. Mereka lupa atau tidak mau tahu maksud luhur dari ajaran agama yang diyakininya. Mereka umumnya lalai untuk berusaha supanya realitas yang ada, paling tidak, tak terjadi pada keluarganya. Demikian sehingga, perselingkuhan, pemerkosaan, pelacuran dan segala bentuk penyimpangan tidak terjadi dibelahan bumi ini. Inilah persoalan yang sekarang masih sulit untuk dipecahkan dan dipahamkan oleh siapa saja. Masalah ini masih terus mengambang tiada kejelasan di negeri tercinta ini. Mudah-mudahan pada suatu ketika, Tuhan akan menjernihkan persoalan ini dengan gamblang, amiin !

 

Nampaknya hanya ini saja yang bisa kami sampaikan kepada Anda. Sepertinya banyak hal yang ingin kami kemukakan supaya anda meresa puas, akan tetapi sayang waktu dan kesempatan sangat membatasi keadaan. Namun demikian, tulisan ini kami rasa sudah labih dari cukup. Selanjutnya, ini semua hanya sekedar penjelasan akan sebuah permasalahan seperti yang sedang Anda hadapi. Dan pada akhirnya Andalah yang akan mempertimbangkan sebuah pilihan. Insan manusia diberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya, walaupun di sana-sini sudah diberi peringatan. Akhirnya insan manusia juga akan diberi jawaban atas pilihan yang dipilihnya. Suatu jawaban yang mengandung resiko atas pilihannya tersebut, sebuah resiko yang mau tidak mau harus diterimanya, apapun yang akan terjadi ?

 

Mudah-mudahan suatu ketika kita dapat berkomunikasi lagi atas segala hal yang mungkin belum memuaskan dan kurang dimengerti. Tidak lupa kami ucapkan terimakasih atas kepercayaan anda kepada kami. Kami berharap hari-hari anda lebih mantap dan menyenangkan !